Wednesday, July 16, 2014

Bapak

Bapak adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usia anaknya bertambah menjadi kepala dua. Bukan kepalang beliau siang malam memikirkan segala kemungkinan. Laki-laki seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Cerita yang mau tidak mau seperti petir di lautan siang-siang.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Sebab sepanjang pengetahuannya, tidak ada laki-laki yang baik di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Untuk kali ini, Bapak boleh menyombongkan diri. Karena kenyataannya memang begitu. Tidak ada laki-laki yang cintanya paling aman selain bapak. Ibu sendiri mengakui.

Bapak adalah laki-laki yang paling takut anak perempuannya jatuh cinta. Laki-laki mau sebaik apapun tetaplah brengsek baginya, berani-beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Sudah dibuat jatuh, dibuat cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal.

Malam itu, ketika dikira anak perempuannya terlelap. Bapak berbicara kepada ibu di ruang tamu. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira bapak berlebihan. Tapi warna suaranya menunjukkan kepedulian.

Aku yang sedari tadi pura pura tidur, mendengarkan. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari bapak. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintanya tidak meninggalkan bapak dan ibu sendirian.

Ku harap ada yang menga-aamiin-kan.

-Kurniawan Gunadi


Mewek lagi bacanya :(
Ayah sempat bicara apa saja sama Ibuk tentang ini?

Monday, July 14, 2014

Nah, karena perempuan itu multitasking, maka saya harus belajar multitasking yang keren. Menempatkan hati dan pikiran pada porsinya. Nah, karena multitasking memang keahlian perempuan, maka saya harus mengaplikasikannya dengan keren juga. Hidup cewek multitasking keren!
Menangis sesekali itu tidak apa-apa. Tapi jika terlalu sering? Ah, mungkin kamu sudah bosan. Atau mungkin lama-lama kamu menganggap tangisan sebagai senjata agar hatimu luluh. Tidak, sungguh. Ketika perempuan yang menangis itu perempuan baik-baik, maka tidak ada setetes air mata pun yang keluar darinya buruk.
Tapi tetap lama-lama kamu akan bosan? Benarkah?

Sunday, July 06, 2014

Waktu sholat lewat, kamu menangis?

Bismillahirrohmarrohim...

Kejadian ini sekitar lima tahun atau enam tahun yang lalu, mungkin. Sedang malas menghitung tahun karena semakin menyadarkan kalau saya sudah tua. hehe

Saat kelas dua SMA.
Saat Study Tour ke Bali untuk pembuatan Karya Tulis Ilmiah (atau mungkin rekreasi terselubung?).
Dini hari, subuh, di dalam bus. Bus tetap melaju kencang tidak pernah peduli dengan agen Islam yang ia angkut. Orang-orang yang belum sholat Subuh. Yang kebetulan sholat Subuh tidak mempunyai keistimewaan untuk dijamak. Yang sedikit disyukuri adalah, saya sedang berhalangan. Ada tamu datang yang membuat saya dilarang sholat.

Ada seorang perempuan yang kukagumi caranya bergaul dengan lawan jenis, caranya bertutur kata yang tidak pernah mengundang candaan rayu, caranya berrima tanpa mengeluarkan nada-nada yang tidak sepantasnya. Perempuan itu sedang menangis. Kutanya kenapa, rupanya karena bus tidak berhenti sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh. Kubilang padanya untuk sholat dalam perjalanan saja. Kebetulan ia berpendapat bahwa hal itu masih dipertanyakan boleh atau tidaknya.

Ah, sudahlah. Bukan itu yang ingin kubahas. Ini tentang tangisannya. Iya, sederhanakah? Menurut anda? Tidak menurut saya saat itu. Bisa dibilang, Insya Allah, saya tidak pernah mengizinkan diri ini lengah untuk kehilangan lima waktu wajibnya. Tapi ketika terlewat waktunya? Saya menangis? Saya yang kelas dua SMA itu. Terkejut, iya. Menyesal, iya. Tapi menangis? Saat itu saya sempat heran dan iri. Mengapa bisa hingga sedalam itu? Mengapa saya belum bisa sejauh itu? Bagaimana dengan anda? Sejauh apa anda menganggap sholat sebagai kebutuhan? Dan bentuk cinta kepada Allah? Pernahkah bertanya pada diri anda?

Semoga dapat digunakan untuk bercermin.
Ini perasaan saya, saat kelas dua SMA. Sekarang?

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Inginnya

Inginnya menghujat rindu
Kalau ternyata rindu dibawa untuk menyakiti
Salah rindu atau hati ini yang tidak mau mengerti?

Inginnya mengancam rindu
yang datang seperti hujan deras membawa bau petrichor
Lalu membekas tidak dapat hilang

Inginnya menenggelamkan rindu
yang ternyata menuntut terlalu banyak untuk diobati
Tapi sedang tidak mampu untuk saling mengobati

Inginnya sebenarnya bertemu kamu
Menikmati hujan atau menghujatnya tidak masalah
selama ada kamu

Thursday, July 03, 2014

“Semakin indah sebuah tulisan, semakin berantakan hati yang menuliskan.”

Oh, parameternya gitu. hahaha .___.

Wednesday, July 02, 2014

"Dan Mustofa, Mustofa, Mustofa namanya... yang menarik dirinya terbebas dari beban duniawi kotornya dunia, benar-benar dalam kemurnian suci."

Hal. 381, Khadijah
Saat Ibunda Khadijah sakaratul maut, memuji Rasulullah dengan nama-nama baiknya. Mustofa salah satunya.

Kado di Angka 21

Konsumtif tentang novel ternyata belum hilang. Target ingin beli novel seri 4 wanita penghuni surga dari Asiyah, Maryam, Khadijah, dan Fatimah harus ditahan-tahan karena memang sedang berhemat uang dan waktu yang tersita untuk membacanya. Setidaknya bukan sekarang. Tapi hari ini ada buku yang terbungkus rapi di dalam kertas kado motif bunga. Dibuka, eh ternyata ada buku Khadijah di dalamnya. Heran, tau banget sedang kepingin apa. Kenal banget sama saya. Padahal ulang tahun juga sudah kelewat lebih dari sebulan. Baru sempat ketemu sekarang. Terima kasih ya. Temen SMA emang long last banget :3

Bukan tentang hadiahnya atau materinya. Ada ketulusan di sana. Ada hubungan yang begitu dihargai dan dijaga dengan baik.
*terharu