Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, August 19, 2015

Salat Tepat Waktu

Questions always have answers when we seek about it.

"Sepertinya tanda kiamat sudah dekat, waktu rasanya kok cepat sekali." Well, this phrase is really common this day.

"Aku juga merasa begitu. Tapi ternyata nggak begitu juga. Waktu bisa menjadi lapang kalau dibuat seperti itu."

"Maksudnya?"

"Kemarin-kemarin saat merasa waktu terlewat begitu cepat ternyata ada obatnya. Aku sering mengakhirkan salat. Saat salat tepat pada waktunya, rasanya berbeda sekali."

Wednesday, January 07, 2015

The decision to trust someone depends on the man who has his own heart, but it depends to the someone who is trusted to betray it.
A man who makes efforts for something and has a good believe in Allah, Allah will answer every pray in the best way. Allah knows the best.

Bismillah, renstra 5 tahun.

Monday, December 29, 2014

Maaf, belakangan jauh sekali rasanya dari-Mu.

Wednesday, November 12, 2014

Tiga perkara.

"Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak, dan rujuk." HR. Abu Daud.

See? Hati-hati dalam berucap ya agen Allah.

Sunday, September 14, 2014

Diam.

“Wanita yang terbaik adalah wanita yang menyenangkan kamu tatkala kamu melihatnya, mematuhimu ketika kamu memerintahnya, menjaga dirinya sendiri (kesuciannya) dan harta kamu dalam ketiadaan kamu.” (HR. At-Thabrani)

Kalau Dosen saya pernah bilang, "Nanti kalau sudah berkeluarga, aib suamimu merupakan aibmu juga. Kalau punya masalah, orang lain tidak boleh tahu, anak saja tidak boleh tahu. Istri yang baik menjaga kehormatan suami."

Grow up! :D

Saturday, September 13, 2014

Bismillah, selalu kembali pada-Mu.

Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah''(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)
Mission
Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah''(HR.Muslim:3649,Nasai,Ibnu Majah)
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sifat-sifat Istri Shalihah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ

قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:

a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.

b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala

c. Qanitat: wanita-wanita yang taat

d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.

e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).

f. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا،

قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri yang shalihah adalah sebagai berikut:

1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mempersembahkan ibadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, terus menerus dalam ketaatan kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.

4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.

5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.

6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.

Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا،

الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا،

وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:

“Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ

وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang shalihah,Aamiin ya Rabbal'alamin



https://www.facebook.com/pages/Dunia-Adalah-PerhiasanSebaik-baik-Perhiasan-Adalah-Wanita-Sholehah/143226049097618?sk=info

Friday, September 05, 2014

On the night like this.

Ada kaca yang belakangan sering saya gunakan karena sepertinya sudah lama saya khilaf tidak menggunakannya. Dan itu kamu. Iya, terima kasih sudah diingatkan sebegini banyak.
Lalu ada kaca tanpa cacat dan tanpa cela. Dikhianati pun tidak pecah, tidak rusak. Dan itu Tuhan, sebagai kaca berikutnya. 
Kalau sudah berkaca dengan baik berarti sudah menemukan apa yang kurang. Kalau sudah menemukan yang kurang berarti sudah tahu tindakan yang akan diambil. Nah, karena sudah tahu yang seharusnya dilakukan, bukan dimengerti saja. Ilmu tidak digunakan ya sama saja, lama-lama lupa lagi. 
Cambuk diri sendiri itu penting. Lebih penting dari cambuk untuk orang lain. Setidaknya manusia berubah untuk lebih baik pasti yang pertama untuk dirinya sendiri. Tapi pada akhirnya akan berdampak pada lingkungan. 
Kalau sering dicurhati orang tentang masalah mereka, lalu bisa memberi saran yang keren sekali, harusnya cambuk diri saya juga berfungsi sama untuk diri saya.
Masalah itu bukan dihadapi dengan cara yang jahat. Bukan diperangi dengan senyum masam, bersedih hati, dan sengsara. Bukan diambil jeleknya saja. Tapi harus bersahabat dengannya, memeluknya erat-erat, jadi sahabat. Karena hidup itu persoalan ketentraman hati. Seh-mah-ngat!


On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
Cause When you're around
I can fall in love every day

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...


Tiba-tiba berasa unyu dan dramatis dan romantis dan berlebihan, meski jadinya bisa mewek, ketawa, senyum, diem, bikin resek, dibalesin resek, mem-bully, di-bully, dan sebagainya. Tapi biarkan saja, yang penting mengarah ke hal yang baik.

Dipeluk Malaikat

Kamu tahu nangis yang nggak ada yang puk-puk atau peluk tapi rasanya malah kayak dinaungi ribuan malaikat langit? Merasa tenang meski menangis karena ternyata kamu butuh?
Pas kamu sujud, pas kamu sholat, pas kamu lagi asyik dan anget banget berduaan sama Allah, yaitu saat kamu berdoa yang tulus dan doa yang baik. Saat-saat begitu, kamu bakal jadi lebih kuat terus. Ternyata di saat tersepi pun kamu bisa merasa ramai.

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912).

Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?
Maka apakah kamu tidak memikirkan?
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

-As-Saffat : 154-156

Loh, Cha. Ditegur Allah pake banget. Hiks

Sunday, July 20, 2014

Busana dan Kekuatan Hati

"Ya ampun... kangen poool aku sama kamu. Susahnyaaaa kalo mau ketemu kamu itu. Zah, aslinya aku kepingin kayak kamu, jadi hijaber yang sungguhan hijaber, yang bener. Pake rok gitu. Keliatan cewek banget, suka ngelihatnya. Pokoknya yang kayak kamu. Kamu kok bisa jadi kayak gitu?"

Seketika merasa tertohok sekali dengan komentar dan pertanyaan semacam ini. Ingin sepertiku, katanya. Dilihat dari mananya? Saat bercermin pun aku masih tidak tahu mana yang pantas dibilang "ingin sepertiku".

Komentar itu seperti pisau dan juga seperti obatnya. Komentar itu melukaiku seperti pisau, karena diri ini sadar bahwa begitu kurang sempurnanya aku dalam mata kebaikan. Di sisi lain, itu menyadarkanku bahwa dari mana pun kita dilihat oleh orang lain, maka kita harus bertanggung jawab tentang apa yang kita kenakan, tentang citra yang kita tunjukkan pada orang lain. Bahwa ketika kita dinilai dari sikap, maka kita harus bertanggung jawab memiliki sikap dan sifat yang sama. Tidak munafik.

Aji ning rogo soko busono lan aji ning ati soko lathi (Kekuatan kebaikan Raga berasal dari cara berbusana dan kekuatan kebaikan hati berasal dari ucapan.)

Sudah dinilai baik dalam berbusana (alhamdulillah), maka harus baik dalam mencerminkannya melalui sikap. Dari situlah seharusnya sikap bermuara pada sifat, dan sifat akan mencerminkan kekuatan hati kita.
Harus lebih banyak bercermin dan memperbaiki diri.

Terima kasih sudah diingatkan. Barakallah.

Wednesday, July 16, 2014

"Terserah entar jodoh lo siapa. Yang perlu diinget, siapapun jodoh lo, lo nggak boleh jauh sedikit pun dari Allah. Soalnya, Allah bakal malu ngasih jodoh yang jelek buat hambanya yang dekat sama Dia."
-Aya' (Para Pencari Tuhan)

Sunday, July 06, 2014

Waktu sholat lewat, kamu menangis?

Bismillahirrohmarrohim...

Kejadian ini sekitar lima tahun atau enam tahun yang lalu, mungkin. Sedang malas menghitung tahun karena semakin menyadarkan kalau saya sudah tua. hehe

Saat kelas dua SMA.
Saat Study Tour ke Bali untuk pembuatan Karya Tulis Ilmiah (atau mungkin rekreasi terselubung?).
Dini hari, subuh, di dalam bus. Bus tetap melaju kencang tidak pernah peduli dengan agen Islam yang ia angkut. Orang-orang yang belum sholat Subuh. Yang kebetulan sholat Subuh tidak mempunyai keistimewaan untuk dijamak. Yang sedikit disyukuri adalah, saya sedang berhalangan. Ada tamu datang yang membuat saya dilarang sholat.

Ada seorang perempuan yang kukagumi caranya bergaul dengan lawan jenis, caranya bertutur kata yang tidak pernah mengundang candaan rayu, caranya berrima tanpa mengeluarkan nada-nada yang tidak sepantasnya. Perempuan itu sedang menangis. Kutanya kenapa, rupanya karena bus tidak berhenti sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh. Kubilang padanya untuk sholat dalam perjalanan saja. Kebetulan ia berpendapat bahwa hal itu masih dipertanyakan boleh atau tidaknya.

Ah, sudahlah. Bukan itu yang ingin kubahas. Ini tentang tangisannya. Iya, sederhanakah? Menurut anda? Tidak menurut saya saat itu. Bisa dibilang, Insya Allah, saya tidak pernah mengizinkan diri ini lengah untuk kehilangan lima waktu wajibnya. Tapi ketika terlewat waktunya? Saya menangis? Saya yang kelas dua SMA itu. Terkejut, iya. Menyesal, iya. Tapi menangis? Saat itu saya sempat heran dan iri. Mengapa bisa hingga sedalam itu? Mengapa saya belum bisa sejauh itu? Bagaimana dengan anda? Sejauh apa anda menganggap sholat sebagai kebutuhan? Dan bentuk cinta kepada Allah? Pernahkah bertanya pada diri anda?

Semoga dapat digunakan untuk bercermin.
Ini perasaan saya, saat kelas dua SMA. Sekarang?

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Wednesday, July 02, 2014

"Dan Mustofa, Mustofa, Mustofa namanya... yang menarik dirinya terbebas dari beban duniawi kotornya dunia, benar-benar dalam kemurnian suci."

Hal. 381, Khadijah
Saat Ibunda Khadijah sakaratul maut, memuji Rasulullah dengan nama-nama baiknya. Mustofa salah satunya.

Saturday, June 28, 2014

Tulus

"Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau untuk selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik diwaktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan.”

-Kurniawan Gunadi

Saturday, May 31, 2014

Kamu Masih Punya Ayah?

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang telah kehilangannya. Kehilangan yang ternyata meninggalkan penyesalan mendalam. Penyesalan yang belum bisa kurelakan.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya selalu bersedih hati saat mengenangnya. Bahkan pada kenangan indah. Bukan, bukan salah kenangan atau salah Ayahku. Ini salahku sendiri, merasa begitu menyia-nyiakan banyak waktu ketika beliau masih ada.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang akan menangis hingga sesak ketika aku begitu merindukannya. Lalu berharap waktu akan kembali dan aku memperbaiki segalanya. Melakukan segalanya hingga berharap sedikit saja beliau akan bangga terhadapku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang seringkali menjadi egois dan menginginkan beliau kembali. Seharusnya beliau ada saat aku diwisuda, atau saat pernikahanku, atau saat aku melahirkan anak pertamaku. Setidaknya Ayahku harus menyeleksi calon imamku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya masih sering tidak dapat memaafkan diri sendiri karena menjadi anak yang tidak keren. Jangan sepertiku yang pada akhirnya belum dapat berdamai dengan kenyataan. Jangan sepertiku yang belum bisa membuatnya bangga.

Kamu masih punya Ayah?
Sekarang kamu sudah belajar dariku. Setidaknya jangan menjadi sepertiku.


Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bpakmu, hanya kepadaKUlah kembalimu (QS.Luqman : 14)
Ada yang menggetarkan Arsy-Mu pada dini hari ini.
Ada yang menangis untuk-Mu pada dini hari ini.
Terima Kasih sudah mau mendengarkan Ya Allah. Sedang belajar ikhlas di jalan-Mu.

Friday, May 30, 2014

“Nasehatilah isteri-isteri kalian dengan cara yang baik, karena sesungguhnya para wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya (paling atas), maka jika kalian (para suami) keras dalam meluruskannya (membimbingnya), pasti kalian akan mematahkannya. Dan jika kalian membiarkannya (yakni tidak membimbingnya), maka tetap akan bengkok. Nasehatilah isteri-isteri (para wanita) dengan cara yang baik.” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Surat Cinta Untuk Calon Suamiku Kelak (2)

Kamu tahu, aku sadar aku tidak sempurna. Aku sadar aku jauh dari apa-apa yang orang katakan, yang seringkali menurutku terlalu baik. Ada beberapa hal yang kutahu aku masih sering kalah untuk melakukan yang benar. Kadang pun aku kurang sabar. Seringkali juga merasa tidak ikhlas tentang sesuatu.

Iri? Ah, hati ini menjadi jelek sekali ketika ada rasa iri, curiga, cemburu. Seolah-olah apa yang kita miliki sekarang bukan titipan Yang Maha Agung saja. Seolah-olah kita akan hidup selamanya. Lalu apa-apa yang kita anggap kita miliki akan terus bersama. Padahal sesungguhnya saat lahir kita sendirian maka saat kita meninggalkan dunia ini pun akan tetap sendirian.

Untuk kamu, apakah menurutmu saat kita mengikat janji nanti, saat kita memutuskan untuk menyempurnakan agama bersama akan terjadi sebentar lagi? Dua tahun? Tiga tahun? Aku tidak tahu. Kamu pun juga tidak tahu, bukan? Untuk sementara aku akan terus belajar menjadi pendampingmu yang baik. Kalau kita saling mengikat sekarang, aku takut kamu akan kecewa aku belum bisa memasak. Lalu aku akan memberimu apa setiap pagi?

Jangan tertawa, aku juga heran mengapa aku belum bisa memasak. Tapi aku berjanji aku akan belajar. Biar kamu juga tidak malu. Tapi aku akan senang kalau kamu tidak terlalu memedulikannya.

Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sedang terjebak dalam rutinitas yang begitu-begitu saja? Tidak apa-apa. Aku harap kamu selalu dalam dekapan Tuhan hingga Tuhan mendekap kita berdua.

Sebenarnya surat ini berisikan rinduku padamu. Tapi aku bingung aku harus memulai darimana. Selain itu, aku penasaran akan sesuatu. Ini bermula ketika aku merindukan Surga. Begitu rindu hingga aku benar-benar merasa tawakkal bagaimana Tuhan akan membawaku kesana. Kapan ya kira-kira? Apakah saat aku baru saja bertemu denganmu? Atau setelah kita menjalani kehidupan bersama untuk waktu yang lama?

Kamu. Kalau semisal aku telah kembali kepada Surga sebelum kita saling mengikat janji, sebelum aku dan kamu bersama dengan jalan yang Tuhan inginkan, apa yang akan kamu lakukan? Jika aku baru saja  merasa bahagia telah bersamamu, lalu aku diambil ke Surga, apa yang akan kamu lakukan? Dan jika kita telah bersama-sama hingga tua dan Surga memanggilku terlebih dahulu, apa yang akan kamu lakukan?

Aku sungguh sedih memikirkannya. Apakah ini karena aku terlalu mencintaimu hingga melebihi cintaku pada-Nya? Ataukah memang seperti ini membayangkan perpisahan meski hanya perpisahan raga? Bolehkah aku sedikit merenunginya?

Kamu. Aku tidak akan melarangmu bersedih ketika aku pergi. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan. Nanti aku akan ikut bersedih. Aku ingin menantimu di sana, maka kamu harus baik-baik di dunia ini. Jalani yang baik, tinggalkan yang buruk.

Jika kamu yang akan meninggalkanku terlebih dahulu, apa yang akan aku lakukan? Aku akan melanjutkan hidup, tapi aku akan membersamaimu dalam kenangan. Aku akan begitu merindukanmu dan menantikan pertemuan kita.

Maafkan aku membuat surat seperti ini. Aku merasa sedih.

Kamu. Aku harap kamu menjalani hidupmu dengan baik. Kalau memang kita ditakdirkan untuk disatukan, maka kita akan menjadi satu. Entah di sini atau di sana. Aku ingin mencintaimu karena-Nya.

Barakallah untuk kamu.

Dari Aku.

Wednesday, May 28, 2014

Kajian Al-Falah - Bangun Cinta

Kajian ini saya ikuti dengan teman kece saya, Manda dan Riris, yang kebetulan adalah teman SMA saya, tanggal 11 Mei 2014. Kebetulan juga, kami bertiga sedang ingin lurus-lurusnya membangun cinta. Hahaha *abaikan.

Kajian ini disampaikan oleh Bapak Heru Kusumahadi, ahli tafsir, yang pamer istri cantik dan satu anak lucu sekali, ganteng juga anaknya, tapi masih balita. Oke, fokus.

Kenapa menikah?
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (Adz-Dzariyat)
Maka sudah jelas bahwa menikah itu untuk mengingat kebesaran Allah. Oleh karena itu, menikah itu bentuk ibadah yang menyenangkan. :3

Dalam perjalanan mencari cinta, baik sekali kalau kita menetapkan beberapa harapan dan kriteria teman hidup kita. Karena Allah selalu mendengar apa yang hamba-Nya minta. Jadi, jangan pernah ragu menspesifikkan kriteria tentang teman hidup selama kita tetap menaruh harap pada Yang Memberi Hidup dan kita tetap berikhtiar untuk terus memperbaiki diri.

Jodoh adalah satu wilayah yang gaib, sangat gaib hingga tidak bisa dikira-kira. Itulah mengapa kita selalu bertanya-tanya mengenainya. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menikah untuk menuju surga-Nya melalui Islam yang kaffah. Karena sesungguhnya:
Menikah itu menyempurnakan separuh agama.
Sehingga kita akan menjadi utuh saat menikah. Perlu diingat bahwa keindahan tanpa arti adalah omong kosong, hanya khalwat. Maka hanya ada dua pilihan, mau bangun cinta atau jatuh cinta (saya sih maunya bangun cinta saja).

"Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka akan menemui kesesatan. (19: 59)
Menikah menurut arti bahasa dalam bahasa arab adalah berkumpul. Maka yang baik adalah tidak LDR yaaa~ (bahasa anak gaul)

Lima tahap persiapan menikah:
1. Ruhiyah, yaitu mengenai tanggung jawab.
2. Ilmu, yaitu mengenai kesiapan, tentang komunikasi yang baik, dan lain sebagainya.
3. Jasadiyah, sudah jelas jasmani.
4. Finansial, yaitu berkecukupan, bukan kaya.
5. Sosial.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(Ar-Rum: 21)

Kita tentu mengenal surat Ar-Rum ayat 21 yang biasanya ada di undangan walimah. Nah, ternyata dalam ayat tersebutlah adanya alur membangun cinta.

1. Min anfusikum (jiwa-jiwa kalian), disini ditekankan bahwa jodoh itu di tangan Allah. Tapi kita juga harus berusaha mengambilnya agar tidak tetap di tangan Allah.

2. Azwajan (kesejiwaan), erat sekali dengan konsep sepatu. Bahwa mereka berjalan tidak kompak tapi satu tujuan, bentuknya tidak sama tapi serasi, tak pernah ganti posisi tapi sejalan, bila satu hilang yang lain tidak memiliki arti.

3. Litaskunu Ilaihi (ketentraman dan ketenangan) " supaya kalian tenang dan tenteram padanya." inilah konsep sakinah. 4 perkara kunci kebahagiaan (disampaikan secara berurutan):
1) Istri yang soleha
2) Rumah yang lapang
3) Kendaraan yang enak dinaiki
4) Tetangga yang baik
Nah, maka terlihat bahwa menikah itu melapangkan rejeki, pintu rejeki akan semakin terbuka lebar. Jadi jangan ada alasan "belum mapan" untuk menunda menikah. Mau ibadah kan lebih baik disegerakan. Daripada mengundang dosa.

4. Wa ja'ala mawaddah (kasih sayang), kasih sayang adalah jembatan untuk bertahan ketika terjadi percekcokan. Hal ini dianalogikan tentang harapan dan kenyataan yang berdiri sendiri. Jembatan apakah yang dapat menyatukannya? Kasih sayang merupakan jembatan yang baik untuk menerima bukan hanya kelebihan melainkan juga kekurangan teman hidup kita. Karena memang sesungguhnya fitrah laki-laki dan perempuan itu berbeda.
Laki-laki: cenderung berpikir dan mencari solusi, hanya dapat fokus pada satu permasalahan, bertanggung jawab.
Perempuan: selalu ingin tahu apa yang terjadi, ingin dimengerti, ingin didengarkan, dapat fokus pada beberapa permasalahan dalam satu waktu.
Maka, baiknya adalah mengkomunikasikan dengan baik, saling mengerti, dan tidak egois.

5. Wa ja'ala Rahmatan (belas kasih), tahapan tertinggi penyempurnaan menikah, melalui ikatan, dan fokus kepada ibadah kepada-Nya.

Semoga selalu diberi jodoh yang sesuai agar dapat mengantarkan kita menjadi baik di mata Allah. Amin.

Yang asyik adalah, kami, para peserta kajian disuruh menuliskan target menikah, kriteria teman hidup idaman, apa saja yang akan dilakukan saat menikah, setelahnya, dan upaya untuk mencapai sakinah, mawaddah, warahmah. Agar kita berusaha juga menjadi baik untuk teman hidup nantinya. Hahaha

Punya saya tidak saya tulis di blog. Ra-ha-si-a. Biar jadi rahasia saya jadi saya terkejut sendiri saat nanti membacanya dan apa saja yang sudah dicapai.

Barakallah. Semoga isi kajian ini manfaat.

Tuesday, May 27, 2014

Isra' Mi'raj

Sama sekali jauh dari sempurna. Tapi manusia memang fitrahnya untuk membuat kesalahan dan belajar. Telah mengenang peristiwa Rasulullah melakukan perjalanan yang luar biasa hingga turunnya perintah Salat. Di titik ini, mengingatkan kita pada bulan Ramadhan yang dekat. Kalau biasanya pesta megah terjadi saat tahun baru Masehi, maka umat Islam menjalani muhasabah (introspeksi) besar-besaran saat ini. Sambil berharap dapat bertemu Ramadhan lagi dan berharap menjadi Ramadhan yang tidak sia-sia dan dijalani tidak biasa-biasa saja. Barakallah.