Showing posts with label Verses in Quran. Show all posts
Showing posts with label Verses in Quran. Show all posts

Saturday, September 13, 2014

Bismillah, selalu kembali pada-Mu.

Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah''(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)
Mission
Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah''(HR.Muslim:3649,Nasai,Ibnu Majah)
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sifat-sifat Istri Shalihah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ

قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:

a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.

b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala

c. Qanitat: wanita-wanita yang taat

d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.

e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).

f. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا،

قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri yang shalihah adalah sebagai berikut:

1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mempersembahkan ibadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, terus menerus dalam ketaatan kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.

4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.

5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.

6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.

Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا،

الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا،

وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:

“Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ

وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang shalihah,Aamiin ya Rabbal'alamin



https://www.facebook.com/pages/Dunia-Adalah-PerhiasanSebaik-baik-Perhiasan-Adalah-Wanita-Sholehah/143226049097618?sk=info

Friday, September 05, 2014

Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?
Maka apakah kamu tidak memikirkan?
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

-As-Saffat : 154-156

Loh, Cha. Ditegur Allah pake banget. Hiks

Sunday, August 03, 2014

Sesungguhnya, kehidupan, rezeki, jodoh, dan kematian merupakan ketetapan yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfuz yang tidak akan pernah meleset.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran [3]: 145).

Sunday, July 06, 2014

Waktu sholat lewat, kamu menangis?

Bismillahirrohmarrohim...

Kejadian ini sekitar lima tahun atau enam tahun yang lalu, mungkin. Sedang malas menghitung tahun karena semakin menyadarkan kalau saya sudah tua. hehe

Saat kelas dua SMA.
Saat Study Tour ke Bali untuk pembuatan Karya Tulis Ilmiah (atau mungkin rekreasi terselubung?).
Dini hari, subuh, di dalam bus. Bus tetap melaju kencang tidak pernah peduli dengan agen Islam yang ia angkut. Orang-orang yang belum sholat Subuh. Yang kebetulan sholat Subuh tidak mempunyai keistimewaan untuk dijamak. Yang sedikit disyukuri adalah, saya sedang berhalangan. Ada tamu datang yang membuat saya dilarang sholat.

Ada seorang perempuan yang kukagumi caranya bergaul dengan lawan jenis, caranya bertutur kata yang tidak pernah mengundang candaan rayu, caranya berrima tanpa mengeluarkan nada-nada yang tidak sepantasnya. Perempuan itu sedang menangis. Kutanya kenapa, rupanya karena bus tidak berhenti sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Subuh. Kubilang padanya untuk sholat dalam perjalanan saja. Kebetulan ia berpendapat bahwa hal itu masih dipertanyakan boleh atau tidaknya.

Ah, sudahlah. Bukan itu yang ingin kubahas. Ini tentang tangisannya. Iya, sederhanakah? Menurut anda? Tidak menurut saya saat itu. Bisa dibilang, Insya Allah, saya tidak pernah mengizinkan diri ini lengah untuk kehilangan lima waktu wajibnya. Tapi ketika terlewat waktunya? Saya menangis? Saya yang kelas dua SMA itu. Terkejut, iya. Menyesal, iya. Tapi menangis? Saat itu saya sempat heran dan iri. Mengapa bisa hingga sedalam itu? Mengapa saya belum bisa sejauh itu? Bagaimana dengan anda? Sejauh apa anda menganggap sholat sebagai kebutuhan? Dan bentuk cinta kepada Allah? Pernahkah bertanya pada diri anda?

Semoga dapat digunakan untuk bercermin.
Ini perasaan saya, saat kelas dua SMA. Sekarang?

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah

Saturday, May 31, 2014

Kamu Masih Punya Ayah?

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang telah kehilangannya. Kehilangan yang ternyata meninggalkan penyesalan mendalam. Penyesalan yang belum bisa kurelakan.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya selalu bersedih hati saat mengenangnya. Bahkan pada kenangan indah. Bukan, bukan salah kenangan atau salah Ayahku. Ini salahku sendiri, merasa begitu menyia-nyiakan banyak waktu ketika beliau masih ada.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang akan menangis hingga sesak ketika aku begitu merindukannya. Lalu berharap waktu akan kembali dan aku memperbaiki segalanya. Melakukan segalanya hingga berharap sedikit saja beliau akan bangga terhadapku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang seringkali menjadi egois dan menginginkan beliau kembali. Seharusnya beliau ada saat aku diwisuda, atau saat pernikahanku, atau saat aku melahirkan anak pertamaku. Setidaknya Ayahku harus menyeleksi calon imamku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya masih sering tidak dapat memaafkan diri sendiri karena menjadi anak yang tidak keren. Jangan sepertiku yang pada akhirnya belum dapat berdamai dengan kenyataan. Jangan sepertiku yang belum bisa membuatnya bangga.

Kamu masih punya Ayah?
Sekarang kamu sudah belajar dariku. Setidaknya jangan menjadi sepertiku.


Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bpakmu, hanya kepadaKUlah kembalimu (QS.Luqman : 14)

Wednesday, May 28, 2014

Kajian Al-Falah - Bangun Cinta

Kajian ini saya ikuti dengan teman kece saya, Manda dan Riris, yang kebetulan adalah teman SMA saya, tanggal 11 Mei 2014. Kebetulan juga, kami bertiga sedang ingin lurus-lurusnya membangun cinta. Hahaha *abaikan.

Kajian ini disampaikan oleh Bapak Heru Kusumahadi, ahli tafsir, yang pamer istri cantik dan satu anak lucu sekali, ganteng juga anaknya, tapi masih balita. Oke, fokus.

Kenapa menikah?
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (Adz-Dzariyat)
Maka sudah jelas bahwa menikah itu untuk mengingat kebesaran Allah. Oleh karena itu, menikah itu bentuk ibadah yang menyenangkan. :3

Dalam perjalanan mencari cinta, baik sekali kalau kita menetapkan beberapa harapan dan kriteria teman hidup kita. Karena Allah selalu mendengar apa yang hamba-Nya minta. Jadi, jangan pernah ragu menspesifikkan kriteria tentang teman hidup selama kita tetap menaruh harap pada Yang Memberi Hidup dan kita tetap berikhtiar untuk terus memperbaiki diri.

Jodoh adalah satu wilayah yang gaib, sangat gaib hingga tidak bisa dikira-kira. Itulah mengapa kita selalu bertanya-tanya mengenainya. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menikah untuk menuju surga-Nya melalui Islam yang kaffah. Karena sesungguhnya:
Menikah itu menyempurnakan separuh agama.
Sehingga kita akan menjadi utuh saat menikah. Perlu diingat bahwa keindahan tanpa arti adalah omong kosong, hanya khalwat. Maka hanya ada dua pilihan, mau bangun cinta atau jatuh cinta (saya sih maunya bangun cinta saja).

"Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka akan menemui kesesatan. (19: 59)
Menikah menurut arti bahasa dalam bahasa arab adalah berkumpul. Maka yang baik adalah tidak LDR yaaa~ (bahasa anak gaul)

Lima tahap persiapan menikah:
1. Ruhiyah, yaitu mengenai tanggung jawab.
2. Ilmu, yaitu mengenai kesiapan, tentang komunikasi yang baik, dan lain sebagainya.
3. Jasadiyah, sudah jelas jasmani.
4. Finansial, yaitu berkecukupan, bukan kaya.
5. Sosial.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(Ar-Rum: 21)

Kita tentu mengenal surat Ar-Rum ayat 21 yang biasanya ada di undangan walimah. Nah, ternyata dalam ayat tersebutlah adanya alur membangun cinta.

1. Min anfusikum (jiwa-jiwa kalian), disini ditekankan bahwa jodoh itu di tangan Allah. Tapi kita juga harus berusaha mengambilnya agar tidak tetap di tangan Allah.

2. Azwajan (kesejiwaan), erat sekali dengan konsep sepatu. Bahwa mereka berjalan tidak kompak tapi satu tujuan, bentuknya tidak sama tapi serasi, tak pernah ganti posisi tapi sejalan, bila satu hilang yang lain tidak memiliki arti.

3. Litaskunu Ilaihi (ketentraman dan ketenangan) " supaya kalian tenang dan tenteram padanya." inilah konsep sakinah. 4 perkara kunci kebahagiaan (disampaikan secara berurutan):
1) Istri yang soleha
2) Rumah yang lapang
3) Kendaraan yang enak dinaiki
4) Tetangga yang baik
Nah, maka terlihat bahwa menikah itu melapangkan rejeki, pintu rejeki akan semakin terbuka lebar. Jadi jangan ada alasan "belum mapan" untuk menunda menikah. Mau ibadah kan lebih baik disegerakan. Daripada mengundang dosa.

4. Wa ja'ala mawaddah (kasih sayang), kasih sayang adalah jembatan untuk bertahan ketika terjadi percekcokan. Hal ini dianalogikan tentang harapan dan kenyataan yang berdiri sendiri. Jembatan apakah yang dapat menyatukannya? Kasih sayang merupakan jembatan yang baik untuk menerima bukan hanya kelebihan melainkan juga kekurangan teman hidup kita. Karena memang sesungguhnya fitrah laki-laki dan perempuan itu berbeda.
Laki-laki: cenderung berpikir dan mencari solusi, hanya dapat fokus pada satu permasalahan, bertanggung jawab.
Perempuan: selalu ingin tahu apa yang terjadi, ingin dimengerti, ingin didengarkan, dapat fokus pada beberapa permasalahan dalam satu waktu.
Maka, baiknya adalah mengkomunikasikan dengan baik, saling mengerti, dan tidak egois.

5. Wa ja'ala Rahmatan (belas kasih), tahapan tertinggi penyempurnaan menikah, melalui ikatan, dan fokus kepada ibadah kepada-Nya.

Semoga selalu diberi jodoh yang sesuai agar dapat mengantarkan kita menjadi baik di mata Allah. Amin.

Yang asyik adalah, kami, para peserta kajian disuruh menuliskan target menikah, kriteria teman hidup idaman, apa saja yang akan dilakukan saat menikah, setelahnya, dan upaya untuk mencapai sakinah, mawaddah, warahmah. Agar kita berusaha juga menjadi baik untuk teman hidup nantinya. Hahaha

Punya saya tidak saya tulis di blog. Ra-ha-si-a. Biar jadi rahasia saya jadi saya terkejut sendiri saat nanti membacanya dan apa saja yang sudah dicapai.

Barakallah. Semoga isi kajian ini manfaat.

Tuesday, May 27, 2014

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(Ar-Rum: 21)

Semoga mendapat jodoh yang sesuai, sesuai agar dapat membaikkan satu sama lain.

Ini kalau dilihat dari isi kajian yang saya ikuti dulu itu, ada poin-poin bagus dari Ar-Rum: 21 yang merupakan tingkatan penyempurnaan agama lewat menikah. Iya, tapi lagi-lagi belum ada feel buat posting isinya. Soalnya sepertinya agak panjang. ._.

Friday, May 23, 2014

Qowwam

"Para suami adalah qowwam bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, istri-istri yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka…" q.s Annisa : 34.

QOWWAMUNA adalah jama dari QOWWAM. Qowwam artinya benar-benar yang meluruskan. Suami menjadi Qowwam artinya harus mampu meluruskan perilaku istrinya yang bengkok atau menegakkan keadilan, karena itu suami sering disebut sebagai pemimpin.

"Nasihatilah para istri dengan baik, karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang iga. Dan sesungguhnya tulang iga yang paling bengkok adalah yang paling atas; jika engkau hendak meluruskannya berarti engkau bisa mematahkannya,jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu nasihatilah istri-istrimu" H.R Bukhari.

Suami harus menjadi pendidik yang baik, memiliki pengetahuan yang luas, berwibawa dan yang jelas lebih memahami agama. Bagaimana mungkin seorang suami dapat memberi pelajaran agama jika ia jarang menghadiri majelis ilmu?

"Orang yang paling baik di antaramu adalah yang paling baik terhadap istrinya" H.R AlHakim.

Repost - Kurniawan Gunadi

Wednesday, April 30, 2014

Comfort :)

Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan karuniakanlah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

Monday, April 28, 2014

Dhuha

Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”
[HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Barakallah :)

Wednesday, November 20, 2013

Tentang Ayah.

Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Rasanya aku sudah sedemikian payah untuk berjalan sendiri
Padahal umurku saja belum pernah mencapai separuh umurmu
Apa karena aku menjadi begitu pengeluh?
Atau menuntut dan meminta terlalu banyak yang seharusnya tidak kuminta?

Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku begitu merindukanmu hingga aku takut lupa
bagaimana seharusnya aku mengingatmu dengan baik
Rasanya baru kemarin aku melihatmu bersantai di ruang tamu
Dan akan menyambutku ketika aku pulang sedemikian larut
lalu bertanya apakah aku sudah makan

Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku ingin ayah marahi ketika aku membandel seperti dulu
Aku ingin ayah latih untuk menjadi mandiri
Ayah, terima kasih sudah menempaku untuk tidak menjadi wanita yang biasa saja
terima kasih sudah membuatku menjadi wanita berharga diri tinggi
terima kasih sudah membiasakanku menjalani hidup dengan mandiri
Dan, terima kasih, meski ayah sudah melatihku untuk dapat bertahan di keadaan apapun,
ayah tidak pernah lupa untuk melindungiku.

Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku mulai lupa alasan mengapa aku dilahirkan.

“Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya”. (QS. Qaaf : 31-35)

Friday, February 22, 2013

Untitled, Surabaya, 2:26 dini hari

Percayalah, Allah tidak pernah tidur. Maka jangan pernah berputus asa dalam kebaikan. Kewajiban kitalah yang sekarang untuk berikhtiar dan berdoa. Tidak peduli dengan apa kata orang. Selama kita yakin apa yang kita lakukan itu baik, ayo jalan. Dulur, monggo. Ayo jadilah penopang yang kuat bagi yang lain. JRC IV sangar kok.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" Q.S. Ar-Rahman

Wednesday, February 08, 2012

Al-Baqarah : 216

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. "
(QS. Al-Baqarah:216)

Kutipan ayat dari Al-Quran di atas adalah kutipan ayat favoritku yang bisa membuatku tenang dan mensyukuri apa yang sudah terjadi dalam hidup. Jadi jika ada yang melihat aku menge-tweet kutipan itu berarti aku sedang sedikit mengalami stres, pergolakan batin, dan jenis penyakit yang tidak menenangkan hati.

Friday, December 23, 2011

Pada Hati yang Sedang Bergemuruh

Belajarlah mengerti sesuatu
Bahwa ada hal yang memang
tidak akan berjalan sesuai keinginanmu
Dan beberapa hal itu
mungkin akan membuat angin topan kecil
yang mengganggu di salah sudut hatimu

Maka diam dan berpikirlah,
karena diammu adalah emas dan danau ketenangan
Dan pikiranmu adalah mata air kebahagiaan

Sebab apa yang bergemuruh dalam hatimu
Tidak selalu memiliki tambang emas yang baik


"Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Allah maha mengetahui, dan kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)