Showing posts with label Point of views. Show all posts
Showing posts with label Point of views. Show all posts

Tuesday, May 31, 2016

Akibat Nonton Acara Korea dan Hubungannya dengan Indonesia

Saya suka sekali nonton acara korea, tapi dipilah-pilah. Nah, kalau saya suka drama korea juga biasanya drama yang lucu atau action atau seputar keluarga. Kalau cinta-cinta atau terlalu terkenal biasanya tidak suka. Selain itu, saya juga suka reality show-nya. Yang saya acungi jempol adalah genre-genre ini membawa banyak sekali (meski tidak semua) pesan moral yang, dalam hal ini, juga dibutuhkan orang Indonesia.

Jadi begini. Pertama saya tekankan kalau tidak semua dramanya bagus. Namun beberapa drama favorit saya selalu menarik karena akting para pemeran totalitas. Saya bisa dibawa tertawa terbahak-bahak lalu mengharu biru dalam film yang sama. Nah, saya selalu suka karena tiap episode selalu ditutup dengan prolog yang tidak selalu sedih namun membuat para penonton mendapat maksud baik dari ceritanya. Meski saya akui Korea sekarang juga terlalu bebas dalam pergaulannya atau hal-hal yang tidak cocok untuk masyarakat kita (dalam dramanya lho ya), tapi yang saya tekankan adalah fakta bahwa Indonesia juga bisa membuat drama macam ini. Drama yang bisa membuat penonton berpikir cerdas dalam memandang hidupnya dan menghargai sesama dengan karakter bangsa kita. Yang saya tahu, film-film Indonesia mulai beralih lebih berbobot mengingat pasang surutnya. Namun film adalah sesuatu yang susah dijangkau masyarakat karena tidak semua masyarakat mau ke bioskop untuk nonton film kecuali memang mereka hobi (atau marketing-nya keren). Jadi, seharusnya sinetron-sinetron di televisi bisa mengubah fokus dan tujuannya.

Kedua, reality show-nya. Kalau saya perhatikan, entah itu palsu atau tidak atau bagaimana saya juga tidak tahu, tapi saya sangat suka dengan reality show mereka. Setiap artis dilibatkan dalam acara reality show mereka yang beragam jenisnya mulai dari games, acara keluarga, travelling, hingga kompetisi. Satu hal yang saya bisa simpulkan, meski misal dalam genre travelling mereka mempunyai beberapa acara, namun tiap acara tidak membosankan. Mereka mempunyai karakter acara masing-masing. Mungkin untuk games dan games keluarga kita sudah sangat familiar dengan beberapa acara yang terkenal. saya ambil contoh yang saya barusan saja terinspirasi adalah acara kompetisi menyanyi. Saat mereka membuat acara kompetisi menyanyi untuk dewasa dan anak-anak, konsep mereka begitu berbeda. Sangat berbeda. Bahkan, kompetisi anak-anak tidak seperti kompetisi namun lebih kepada pendidikan menyanyi untuk anak-anak sehingga fokus mereka bukan untuk menang.

Barusan saya selesai melihat program berjudul actor school di channel M yang kebetulan masuk ke final episode. Saya tidak mengikuti acara ini secara penuh hingga hanya mempunyai gambaran besar kalau acara ini merupakan sekolah untuk para aktor. Lagi-lagi saya selalu menikmati proses bagaimana konsep acara seperti ini dibuat. Penonton tidak pernah dibiarkan bosan, malah sangat menikmati acara ini dan menyerap ilmunya.

Nah saya kembali lagi ke Indonesia yang sepertinya belakangan lagi suka sambat sama siswa yang kelakuannya begini dan juga guru yang serba salah menjalankan perannya sebagai pendidik. Cara ini pantas dicoba, membuat sekolah yang ditampilkan di TV dengan seleksi siswa yang ketat sehingga sekolah TV ini menjadi lebih prestigious dengan pendidik yang merupakan public figure, dengan tim pendidik yang kreatif. Jadi seperti internship. Akan susah memang, karena kalau saya perhatikan, acara korea begitu membutuhkan waktu yang lama juga dalam pembuatannya. Tapi bukannya hasilnya akan keren sekali. Anak-anak yang terbiasa mendapat hiburan di rumah dengan menonton televisi dapat menikmati acara ini tanpa bosan sekalian mengambil ilmunya. Selain itu, pendidik lain yang mungkin kebanyakan juga kewalahan dengan karakter murid sekarang bisa mengambil pelajaran dari acara sejenis ini.

Dan banyak acara lainnya (atau drama lainnya).

TV itu media yang masih sangat awet hingga sekarang. Jadi, sepertinya mengadaptasi hal positif melalui media luar negeri selama hal itu berdampak positif pasti menghasilkan sesuatu. Sekalian memberi pelajaran tanpa mengganggu zona nyaman penonton yang beragam ini.
Namun banyak yang memberatkan rating. Jadi sedih.



Tuesday, September 16, 2014

Mengikhlaskan adalah jalan di mana kamu akan memiliki semua yang kamu inginkan, bukan malah akan kehilangan.  Itulah sebabnya mengapa ikhlas itu susah.

Saturday, September 13, 2014

Ibu Keren

"Lihat-lihat dulu nduk, kamu kepingin ambil beasiswa S2 tujuannya untuk apa. Kalo aku memang sengaja kepingin Eropa soalnya akses kemana-mana mudah, sekalian jalan-jalan. Hehe. Ada temenku cewek malah kepingin sampai S3, niatnya untuk mendidik anak. Kalau sudah tahu tujuannya, jadi lebih mudah menentukan tujuan tempatnya. Paling enak lagi kalo kuliah sudah ada pendamping jadi bisa saling mendukung. Apalagi kamu cewek lho."
Hendra - Meka 2010

Oh. Wow. Sekolah tinggi untuk mendidik anak. Saya setuju sekali sama tujuan mbak kece di atas. Harus jadi Ibu bijak dan cerdas untuk mendidik anak. Bahkan dosen saya pernah bilang, "Kuliah itu bukan hanya tentang akademiknya, sebenarnya kuliah itu bagaimana cara mengembangkan diri dan pola pikir. Lihat saja yang besar di jalanan dengan yang besar di instansi pendidikan. Ada bedanya, kan?"

Semangat!

Friday, September 05, 2014

On the night like this.

Ada kaca yang belakangan sering saya gunakan karena sepertinya sudah lama saya khilaf tidak menggunakannya. Dan itu kamu. Iya, terima kasih sudah diingatkan sebegini banyak.
Lalu ada kaca tanpa cacat dan tanpa cela. Dikhianati pun tidak pecah, tidak rusak. Dan itu Tuhan, sebagai kaca berikutnya. 
Kalau sudah berkaca dengan baik berarti sudah menemukan apa yang kurang. Kalau sudah menemukan yang kurang berarti sudah tahu tindakan yang akan diambil. Nah, karena sudah tahu yang seharusnya dilakukan, bukan dimengerti saja. Ilmu tidak digunakan ya sama saja, lama-lama lupa lagi. 
Cambuk diri sendiri itu penting. Lebih penting dari cambuk untuk orang lain. Setidaknya manusia berubah untuk lebih baik pasti yang pertama untuk dirinya sendiri. Tapi pada akhirnya akan berdampak pada lingkungan. 
Kalau sering dicurhati orang tentang masalah mereka, lalu bisa memberi saran yang keren sekali, harusnya cambuk diri saya juga berfungsi sama untuk diri saya.
Masalah itu bukan dihadapi dengan cara yang jahat. Bukan diperangi dengan senyum masam, bersedih hati, dan sengsara. Bukan diambil jeleknya saja. Tapi harus bersahabat dengannya, memeluknya erat-erat, jadi sahabat. Karena hidup itu persoalan ketentraman hati. Seh-mah-ngat!


On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
Cause When you're around
I can fall in love every day

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...


Tiba-tiba berasa unyu dan dramatis dan romantis dan berlebihan, meski jadinya bisa mewek, ketawa, senyum, diem, bikin resek, dibalesin resek, mem-bully, di-bully, dan sebagainya. Tapi biarkan saja, yang penting mengarah ke hal yang baik.

Thursday, September 04, 2014

Tuhan Sedang Cemburu

Tuhan sedang cemburu habis-habisan kepadaku. Alhamdulillah.
Kalau sedang dicemburui begini, jadi susah konsennya kemana-mana. Sedikit jauh dari keramaian, melamun dan mudah terbawa sedih. Mau mengerjakan apa-apa juga akhirnya galau sendiri. Ih.
Tapi yang penting doanya harus semakin keren. Kalau dicemburui begini, berarti masalah yang datang juga bakal keren, jadi ini tandanya mau naik level. Sudah ada tangganya. Tinggal memilih mau naik atau tidak. Kalau sudah memilih naik, harusnya usahanya juga keren biar levelnya keren.

Terima kasih sudah cemburu, Tuhan. Terima kasih sudah menyayangiku sebegini kerennya. Yang ini, saya nggak mau menyerah.

Wednesday, September 03, 2014

Angkuh dan Tuli

"Inna sa'yakum lasyattaa"
Sungguh usaha manusia itu bermacam-macam. (QS. Al-Lail:4)

"Kamu, tidak pernah ada yang memaksa kamu harus berjuang seberapa gigih atau seberapa keras tentang sesuatu. Lagi-lagi karena parameter setiap orang itu berbeda dan tidak mungkin kamu memuaskan setiap orang. Yang perlu diingat, jangan pernah menjadi angkuh dan tuli, merasa paling sempurna dan tidak melihat sekitar. Berusahalah yang baik, karena usaha selalu berbanding lurus dengan hasil. Jangan melupakan lingkunganmu. Jangan pernah lelah untuk berbagi. Karena kamu akan merasa kaya saat kamu memberi banyak. Barakallah kamu."

Tulisan itu sengaja kutulis untukku sendiri, sebagai pengingat diri. Sengaja kutulis di catatan kuliah, rapat, dan curhat dalam satu buku yang sama. Buku yang kubeli bersamanya.

Ada pesan singkat yang lumayan panjang yang sengaja kusimpan. Pesan singkat bernada sarkas namun berpuisi dan bersajak. Tumben sekali kan? 
Itu adalah pesan singkat yang selalu membuatku sedih ketika membacanya. Meski begitu beberapa hari ini pesan itu selalu kubaca. Bukan karena sakit hati, namun karena aku tahu aku salah dan aku tahu apa yang dikatakannya tentangku benar.

Ini tentang aku yang terlalu merasa sempurna akan sesuatu. Tentangku yang terlalu meminta banyak. Tentangku yang lupa. Tentangku yang telah menjadi angkuh dan tuli. Tentangku yang menyakiti orang yang seharusnya tidak kusakiti, setidaknya dia tidak pantas disakiti.


This is how you should remember that no one is perfect. People look perfect because they see the beautiful details of their imperfection.

Sunday, August 10, 2014

"Bertahanlah ketika kamu mengenal seseorang yang dengannya kamu merasa menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih menghargai hidup, lebih berpikir positif padahal dia tidak pernah mengatur-mengatur atau menyuruhmu untuk berubah."
-Kurniawan Gunadi

Hai, kamu. :3

Sunday, August 03, 2014

Bertanya tentang perasaan abadi dan tidak setengah-setengah? Tanyakan perempuan, mereka ahli sekali dalam hal itu.

Karena perasaan itu fluktuatif. Tergantung cara merawat dan menjaga lewat komitmen :3

Wednesday, July 23, 2014

Bijaksana

Hati kita kadang harus terluka. Agar kita tahu bagaimana rasanya dikhianati. Agar kita tidak mengkhianati. Hidup kita kadang harus hancur. Agar kita tahu bagaimana rasanya dicaci. Agar kita tidak ikut mencaci. Pikiran kita kadang harus jenuh. Agar kita tahu bagaimana rasanya dijauhi. Agar kita tidak menjauhi.

Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.

Seluruh cinta kita kadang harus hancur berantakan. Agar kita tahu bagaimana rasanya tidak berbalas, tahu bagaimana rasanya khawatir, menunggu, ditunggu, diburu waktu, dikhianati, bertepuk sebelah tangan, berharap, bersatu. Agar cinta kita menjadi lebih bijaksana, tidak gegabah dalam mengambil keputusannya.

Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.

-Kurniawan Gunadi

Sunday, July 20, 2014

Busana dan Kekuatan Hati

"Ya ampun... kangen poool aku sama kamu. Susahnyaaaa kalo mau ketemu kamu itu. Zah, aslinya aku kepingin kayak kamu, jadi hijaber yang sungguhan hijaber, yang bener. Pake rok gitu. Keliatan cewek banget, suka ngelihatnya. Pokoknya yang kayak kamu. Kamu kok bisa jadi kayak gitu?"

Seketika merasa tertohok sekali dengan komentar dan pertanyaan semacam ini. Ingin sepertiku, katanya. Dilihat dari mananya? Saat bercermin pun aku masih tidak tahu mana yang pantas dibilang "ingin sepertiku".

Komentar itu seperti pisau dan juga seperti obatnya. Komentar itu melukaiku seperti pisau, karena diri ini sadar bahwa begitu kurang sempurnanya aku dalam mata kebaikan. Di sisi lain, itu menyadarkanku bahwa dari mana pun kita dilihat oleh orang lain, maka kita harus bertanggung jawab tentang apa yang kita kenakan, tentang citra yang kita tunjukkan pada orang lain. Bahwa ketika kita dinilai dari sikap, maka kita harus bertanggung jawab memiliki sikap dan sifat yang sama. Tidak munafik.

Aji ning rogo soko busono lan aji ning ati soko lathi (Kekuatan kebaikan Raga berasal dari cara berbusana dan kekuatan kebaikan hati berasal dari ucapan.)

Sudah dinilai baik dalam berbusana (alhamdulillah), maka harus baik dalam mencerminkannya melalui sikap. Dari situlah seharusnya sikap bermuara pada sifat, dan sifat akan mencerminkan kekuatan hati kita.
Harus lebih banyak bercermin dan memperbaiki diri.

Terima kasih sudah diingatkan. Barakallah.

Friday, July 18, 2014

Bahagia karena hal sederhana

Precious moment saat saya bersepeda dari kampus menuju bundaran ITS untuk mencari takjil. Rencana awal saya dan teman-teman akan berjalan kaki ke sana. Ternyata di tengah jalan bertemu dengan adik kelas yang sedang bersepeda dan akan memarkir sepedanya. Kita dengan enaknya langsung meminjam sepeda itu untuk ke bundaran ITS. Subhanallah, begini ternyata bahagia yang sesungguhnya. Bersepeda ramai-ramai dengan saudara seperjuangan. Tertawa begitu senang sampai sedikit berkaca-kaca hahaha alay juga ternyata. Padahal hanya bersepeda. Sebentar pula. Tapi meski sebentar tetap saja bikin saya sedikit kecapekan karena sudah tidak terbiasa.
Ah, tidak tahu juga alasan saya mengapa menjadi sebegitu senangnya. Bersyukur tetap diberi karunia "mudah senang dengan hal-hal sederhana".

Semoga selalu pandai bersyukur.

Anyway, jadi ingat perkataan teman sekelas saya yang bilang, "Bikin seneng kamu itu gampang ya. Nanti jodohmu ya nggak ribet kalo pengen bikin kamu seneng, nggak perlu keluar uang banyak. Masa' liat kali yang kotor tapi luebar aja bisa jadi seneng." saat saya menyeberang kali TMB untuk menuju masjid yang ada di seberangnya dan saya nyeletuk sambil tertawa sumringah, "Wah kalinya luebaaaar, menyenangkan yaaa." padahal saat mau menyeberang saya sumpek sama bauknya yang Naudzubillah. Hahahaha

Harus Membesarkan Hati, Belajar Ikhlas

Sidang Tugas Akhir. Bismillah untuk teman-teman D3 dan untuk kakak kelas saya D4 semoga selalu dalam ridha Allah. Karena sesungguhnya, pertolongan Allah adalah apapun yang membuat hamba-Nya semakin dekat, termasuk rasa sakit.

Tapi manusia memang selalu dekat dengan perasaan gelisah. Ah, perasaan. Hari ini diingatkan banyak hal tentang itu. Mendengar cerita sana-sini tentang sidang, tentang dosen pembimbing maupun dosen penguji. Ada kelegaan, ada haru, ada isak tangis.

Pada akhirnya sidang memang selalu menjadi momen "melihat hasil" dari kerja keras dan sebagai syarat kelulusan. Saya ikut bersyukur untuk saudara-saudara yang dilancarkan pada sidang. Segala puji bagi Allah mendapatkan hasil yang menggembirakan. Di sisi lain, semoga selalu dikuatkan untuk saudara-saudara yang memang, setidaknya, belum mendapatkan keputusan hasil rapat, terlepas akan seperti apa keputusan itu.

Ini mengingatkan saya tentang sesuatu. Lagi-lagi Ayah saya pernah berkata, "Tidak apa-apa tidak lolos SNMPTN sekarang. Bukan hal memalukan. Nggak perlu malu. Nggak harus kuliah tepat waktu. Setahun nggak kuliah nggak apa-apa. Kan bisa melakukan banyak hal lain dengan proses belajar yang sama. Belajar bukan cuma lewat perkuliahan. Akan selalu datang keputusan yang diharapkan ketika memang sudah siap."

Itu perkataan beliau kepada saya ketika saya begitu gugup, sangat gugup, menunggu hasil SNMPTN dan tes-tes lainnya. Melewati SNMPTN undangan yang membuat saya sedikit kecewa. Eh, banyak kecewa sepertinya. Beruntung sekali memiliki orangtua yang tidak pernah membuat kecil hati dan terus membuat saya begitu kuat. Tidak perlu malu. Tidak perlu sebegitu kecewa. Toh, terlambat diterima kuliah bukan berarti hidupmu akan berakhir.

Ini pun berlaku untuk saya yang akan menghadapi Tugas Akhir serupa. Saya pasti akan mengalami tekanan yang begitu berat nantinya. Tekanan yang mungkin sekarang belum seberapa terasa.

Ini nasehat yang sering terlupakan. Nasehat yang sering diremehkan. Tapi semoga dapat menjadi bekal saya. Nasehat inilah yang membuat saya bertahan tiga tahun lalu saat maraknya penerimaan mahasiswa baru (Alhamdulillah saya lolos). Nasehat ini juga akan berlaku bagi saya dalam menjalani semester-semester akhir saya. Setelah berusaha, akan ada jalan.

"Nggak perlu malu. Usaha yang baik. Berproses yang baik. Allah penentu hasil yang paling adil."

Bismillah...
Demi Ayah Ibuk Adik-adik.
Harus siap menjadi wisudawati yang berguna.

Wednesday, July 16, 2014

"Terserah entar jodoh lo siapa. Yang perlu diinget, siapapun jodoh lo, lo nggak boleh jauh sedikit pun dari Allah. Soalnya, Allah bakal malu ngasih jodoh yang jelek buat hambanya yang dekat sama Dia."
-Aya' (Para Pencari Tuhan)

Thursday, July 03, 2014

“Semakin indah sebuah tulisan, semakin berantakan hati yang menuliskan.”

Oh, parameternya gitu. hahaha .___.

Thursday, June 26, 2014

Karena membela rasa tidak akan memenangkan apa-apa. Lambat laun rasa akan hilang. Maka jangan memulai sesuatu dengan hanya memenangkan rasa. Maka peganglah komitmen, entah rasa itu ada atau berkurang atau meningkat atau malah menghilang, kamu selalu menemukan alasan untuk berjuang bersama. Karena yakin yang kamu lakukan saling membaikkan.

Thursday, June 12, 2014

Laki-laki dan Perempuan

Perempuan, dalam alam bawah sadarnya yang paling dalam. Akan ada perasaan ingin didominasi. Didominasi oleh sesuatu yang menurutnya pantas mendominasi. Jika kata ini kurang tepat, maka akan lebih mudah dijelaskan dengan perasaan-ingin-dipimpin.

Semandiri apapun perempuan. Meski kemana-kemana sudah berani sendiri. Pulang larut malam berani. Membuat perjalanan jauh dengan percaya diri. Mendaki, bermain air, atau hal-hal bahaya lain. Dalam satu masa, akan ada perasaan ingin dilindungi.

Sekuat apapun dia, secara fitrahnya ia ingin dilindungi. Ingin menggantungkan diri pada sesuatu yang menurutnya lebih kuat. Bukan karena perempuan lemah, bukan pula karena dia tidak bisa. Tapi lebih kepada perasaannya sendiri. Ada rasa nyaman ketika dilindungi. Ada rasa nyaman ketika diperhatikan.

Hal ini pula terjadi kepada laki-laki. Bahwa laki-laki akan merasa menjadi “laki-laki” ketika ia bisa menunjukkan kemampuannya dalam melindungi, memberi jaminan keamanan, dan menjadi tempat bergantung. Ketika hal-hal itu hilang darinya, maka kelakiannya benar-benar dipertanyakan. Bahkan dipertanyakan oleh dirinya sendiri. Mengapa tidak ada orang yang mau mempercayakan keamanannya dan perlindungannya kepadanya?

Laki-laki akan tampak hebat dan kuat jika ada perempuan disampingnya. Karena ada sesuatu yang dia lindungi. Perempuan akan merasa dirinya begitu berharga ketika ada sesuatu yang dengan keras memperjuangkan dan menjaganya. Ini fitrah. Sesuatu yang memang berasal dari dalam diri masing-masing.

Maka mulailah kita berpikir. Sosok seperti apa yang sebenarnya mampu mendominasi kita (perempuan). Dan sosok seperti apa yang mau mempercayakan keamanan dan perlindungan hidupnya kepada kita (laki-laki).

Maka, berbahagialah ketika yang mendominasi tersebut adalah sosok yang sangat bijaksana. Yang memimpin dengan sangat baik. Dan berbahagialah ketika ada seseorang yang datang dan mempercayakan kepada kita sebagai tempat berlindung dan mempercayakan hari kedepannya bahkan hidupnya setelah mati kepada kita (laki-laki).


-Kurniawan Gunadi

Tuesday, June 10, 2014

Seseorang yang akan bersamamu nanti adalah orang yang sepadan denganmu dan sejalan denganmu. Agar ketika kamu bertengkar, kamu akan ingat apa yang membuat kalian saling membaikkan. Karena perjalanan bukan hanya tentang bertemu dan saling mengikat, melainkan membersamai dalam hari-hari, saling menguatkan, saling mengajari dalam kebaikan, dan perpisahan sementara yang akan dipertemukan kembali di dunia yang berbeda.

Semoga usaha baik berbuah baik juga :D

Saturday, May 31, 2014

Kamu Masih Punya Ayah?

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang telah kehilangannya. Kehilangan yang ternyata meninggalkan penyesalan mendalam. Penyesalan yang belum bisa kurelakan.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya selalu bersedih hati saat mengenangnya. Bahkan pada kenangan indah. Bukan, bukan salah kenangan atau salah Ayahku. Ini salahku sendiri, merasa begitu menyia-nyiakan banyak waktu ketika beliau masih ada.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang akan menangis hingga sesak ketika aku begitu merindukannya. Lalu berharap waktu akan kembali dan aku memperbaiki segalanya. Melakukan segalanya hingga berharap sedikit saja beliau akan bangga terhadapku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang seringkali menjadi egois dan menginginkan beliau kembali. Seharusnya beliau ada saat aku diwisuda, atau saat pernikahanku, atau saat aku melahirkan anak pertamaku. Setidaknya Ayahku harus menyeleksi calon imamku.

Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya masih sering tidak dapat memaafkan diri sendiri karena menjadi anak yang tidak keren. Jangan sepertiku yang pada akhirnya belum dapat berdamai dengan kenyataan. Jangan sepertiku yang belum bisa membuatnya bangga.

Kamu masih punya Ayah?
Sekarang kamu sudah belajar dariku. Setidaknya jangan menjadi sepertiku.


Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bpakmu, hanya kepadaKUlah kembalimu (QS.Luqman : 14)

Friday, May 30, 2014

Inikah? Entah

Menyerahlah. Bila kau tak punya nyali dan hanya pasrah. Kau tahu, aku resah.

Menjauhlah. Bila kau hanya mengajakku berlari bersama tanpa arah. Kau tahu, itu lelah.

Pergilah. Agar tak membuat luka menjadi semakin parah. Membangun harapan lalu melenyapkannya hingga musnah. Kau tahu, aku mulai marah.

Semerah darah yang mengalir dalam nadi, sekuning bunga matahari, sepucat muka yang sangat pasi, sehitam arang legam yang mulai terbakar api. Itulah situasi hati seorang gadis yang sudah, sedang, dan akan belajar mencintai makhluk lain bernama lelaki.


-Febrina Anggitasari

Ini tulisan buagus sama jleb. hahaha.