Tuesday, February 17, 2015
Counting
Thursday, January 02, 2014
Tentang perempuan, buku, baju, dan sepatu.
Berbeda dengan analogi kepuasan hakiki. Kepuasan hakiki itu bisa dianalogikan ketika kamu mengunjungi toko buku. Di sana, kamu akan menyukai begitu banyak buku, sama halnya ketika kamu menyukai baju dan sepatu. Hanya saja kamu dapat membacanya, entah hanya pada sampul belakang atau kebetulan menemukan buku yang sudah tidak tersegel (biasanya kalau saya sudah terlanjur SANGAT tertarik, sedikit merusak segel bisa kali ya). Hal menariknya adalah, sesingkat apapun waktumu membacanya, kamu akan memasuki dunia di mana hanya ada tentang kamu dan buku itu. Melupakan semua hal yang membuatmu resah, marah, jengkel, rindu, bahagia, dan lain sebagainya. Dan dunia baru yang kamu kunjungi memang tidak selalu menyenangkan, tapi kamu bisa beralih ke buku yang lain untuk mencari dunia yang menyenangkan. Jadi, saya selalu tahu harus berlari ke mana selain bersujud. Bukankah ibadah bukan hanya tentang berada di atas sajadah? Mencari ilmu juga ibadah, kan?
"Sebaik-baik teman duduk adalah buku." - La Tahzan Book
Thursday, June 27, 2013
Childhood Never Ends, Right?
Member:
- Berada di lingkungan yang sebagian besar teman seumuran adalah cowok tidak membuatku keki dan membuat gap sendiri. Malah, aku merasa nyaman sekali dengan mereka. Bermain dengan mereka, apa saja, membuatku merasa jadi superman versi cewek alias tomboy tapi tetap unyu. Satu orang yang sampai-sampai dihafal orang tuaku adalah Dany. Satu orang ini nggak pernah sungkan main ke rumah. Ngobrol lama, main geje-gejean sampai maghrib terus siap-siap salat di Langgar depan rumah. Sampai-sampai aku pun dihafal oleh Ibu Dany. Biasanya kita suka saingan masalah pelajaran karena kebetulan seumuran. Tapi aku selalu yakin dia itu memang lebih pinter dari aku. Kalau lagi nggak ada temen cewek yang main, pasti nyarinya Dany. Entah tanya adiknya atau ke siapa. Sampai aku nggak sadar kalau ada perasaan lain yang tumbuh di dia. Bayangkan. SD. Katanya dari kelas dua atau tiga gitu. Tapi aku nggak pernah nyadar. Baru kelas enam SD aku paham (polos banget aku). Kudu ngguyu. Cuma ya namanya anak-anak. Pokoknya satu orang ini muesti ada.
- Ada lagi namanya Ardi. Nah, kalau yang ini setahun di bawah umurku. Anaknya lucu pol. Mesti sering ketahuan aku kalo dia lagi melakukan hal konyol yang bodoh. Entah pura-pura bertapa atau apa. Terus nanti kalo ketahuan pasti aku dikejar dan dianiaya. Tapi namanya juga aku berpenyakit usil akut ya tak terusin aja. Rumahnya selalu asik dibuat melekan. Apalagi kalo jaman piala dunia atau EURO pasti nonton dirumahnya. Sampe kadang aku pulang kerumah udah dikunci pintunya terus aku nangis di depan rumah. Ardi ini juga temen yang asik buat nemenin. Jadi kalo nggak Dany yang ada, ya Ardi.
- Ayu sama Fika. Seenggaknya ini dua cewek yang sering keluar. Jadi total cewek di rumah itu cuma 5 orang berbanding jumlah cowok yang bejibun banyaknya. Kita ini lucu, sering tengkar karena masalah kecil, rebut-rebutan jadi sahabat sampai surat-suratan yang isinya sama topiknya. "Persahabatan kita apa harus berhenti disini aja?" Hahaha, go home, guys. You're drunk.
- Selain itu ada Mas Ipul sama Mas Dendy. Suka sok-sokan tua dan sok paling ngerti semuanya (dulu, sekarang udah enggak). Sukanya bohongin anak kecil. Jadi pas aku SD, mereka udah SMP gitu.
- Terus ada adikku Wildan, ada Fiko adiknya Fika, Rudy, Antok, Hendra, Puji, Edi anak cina, Rahman dan Denis (rumahnya asik buat main soalnya ibunya gaul abis), Risal adiknya Dany yang sering di-bully soalnya, kayak masnya, suka pake urat kalo ngomong. Hahaha. Yang cewek dua ada Shifak sama Kak Salwa yang kebetulan adik kakak tapi sepertinya mereka sibuk sama teman main lainnya jadi jarang sama kita. Tapi, Shifak ini selalu jadi orang pertama yang minal aidzin-an sama aku pas lebaran. Selalu.
Wednesday, January 30, 2013
Saya dan Toko Buku
Pernah mengalami saat bahwa kamu ingin pergi jauh, asyik sendiri, dan ingin sendirian? Aku pernah mengalaminya. Tidak sekali malah.
Sasaran tempat yang akan aku kunjungi adalah toko buku. Toko buku menurutku satu tempat yang membuatku terlihat baik-baik saja meski aku sedang melamun. Karena di sana aku akan sibuk dengan buku. Karena melihat buku yang begitu banyak sangat menyenangkan. Karena di sana aku bisa merasa ramai meski sedang sendiri lalu tenggelam pada semua hal yang aku sukai. Dan karena aku tidak akan terlihat bodoh berlama-lama di sana untuk memikirkan banyak hal.
Biasanya aku suka sekali secara spontan pergi sendiri kesana, lalu menghabiskan banyak jam di sana dan pulang dengan membawa satu buku. Perasaanku selalu sudah menjadi tenang saat aku beranjak pulang. Mungkin mas mbak di toko sering membatinku yang sering nebeng tempat ya.