Saturday, March 07, 2015
Belajar, belajar, belajar terus
Friday, July 18, 2014
Ayo Jalan-jalan
Sedang bosan dengan hiruk pikuk aktivitas
Sedang ingin menikmati hal sederhana yang sering terlewat
Ayo jalan-jalan
Bukan mengajak boros makan di tempat yang menjual kenyamanan dengan harga
Sedang ingin makan di kaki lima
menikmati hal kecil bersama
mungkin berbagi cerita
apa saja yang dapat dibagi
Ayo jalan-jalan
Bukan mengajak di tempat yang begitu menahan untuk menyendiri
Sedang ingin jalan-jalan di tempat yang sepi
menatap langit mungkin
tidak perlu merogoh receh
hanya perlu berbicara saling memahami
Ayo jalan-jalan
Bukan mengajak bermain sesuatu yang tidak biasa
Berkeliling kota melihat lampu pun akan menyenangkan
berbagi kabar dan bercanda
mungkin juga berkhayal
Ayo jalan-jalan
Tidak perlu banyak menguras tenaga dan pikiran
hanya tentang berbagi masa lalu dan masa depan
Bisakah?
Sunday, July 06, 2014
Inginnya
Kalau ternyata rindu dibawa untuk menyakiti
Salah rindu atau hati ini yang tidak mau mengerti?
Inginnya mengancam rindu
yang datang seperti hujan deras membawa bau petrichor
Lalu membekas tidak dapat hilang
Inginnya menenggelamkan rindu
yang ternyata menuntut terlalu banyak untuk diobati
Tapi sedang tidak mampu untuk saling mengobati
Inginnya sebenarnya bertemu kamu
Menikmati hujan atau menghujatnya tidak masalah
selama ada kamu
Saturday, June 14, 2014
Yang diam tak menyakiti
Lalu ada rasa bersalah.
Saturday, April 12, 2014
Menemanimu.
Sunday, January 05, 2014
Sajak yang tak akan pernah kau mengerti.
Thursday, January 02, 2014
Kepergian dan Layang-layang
Entah seberapa dalam luka yang tidak sengaja kita buat pada suatu malam
lalu kau meninggalkanku terlelap sendirian dengan sekawanan kupu-kupu
kehilangan yang memenuhi rongga udara
Meski begitu aku mulai terbiasa dengan perasaan timbul tenggelam tiap pagi
yang mungkin hanya aku saja yang merasa
sebab mungkin tidak ada yang perlu disesali dari sebuah kepergian
Aku teringat bahwa dulu kita adalah sepasang pertanyaan dan jawaban
yang awalnya tidak pernah saling mengenal
namun pada akhirnya saling membutuhkan
maka aku akan berhenti menarikmu ke daratan--
kubiarkan kau menjadi layang-layang yang terbang bebas
Wednesday, November 20, 2013
Tentang Ayah.
Rasanya aku sudah sedemikian payah untuk berjalan sendiri
Padahal umurku saja belum pernah mencapai separuh umurmu
Apa karena aku menjadi begitu pengeluh?
Atau menuntut dan meminta terlalu banyak yang seharusnya tidak kuminta?
Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku begitu merindukanmu hingga aku takut lupa
bagaimana seharusnya aku mengingatmu dengan baik
Rasanya baru kemarin aku melihatmu bersantai di ruang tamu
Dan akan menyambutku ketika aku pulang sedemikian larut
lalu bertanya apakah aku sudah makan
Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku ingin ayah marahi ketika aku membandel seperti dulu
Aku ingin ayah latih untuk menjadi mandiri
Ayah, terima kasih sudah menempaku untuk tidak menjadi wanita yang biasa saja
terima kasih sudah membuatku menjadi wanita berharga diri tinggi
terima kasih sudah membiasakanku menjalani hidup dengan mandiri
Dan, terima kasih, meski ayah sudah melatihku untuk dapat bertahan di keadaan apapun,
ayah tidak pernah lupa untuk melindungiku.
Ayah, bisakah menceritakan tentang surga kepadaku?
Aku mulai lupa alasan mengapa aku dilahirkan.
“Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya”. (QS. Qaaf : 31-35)
Saturday, October 26, 2013
Sajak Aku dan Kamu
Seperti air yang enggan bertemu pasir
Tidak ada lagi yang ramah menyapa
Mengusap luka, membasuh peluh, menyeka air mata
Sadar saat pohon abadi berdiri sendiri
Meninggalkan pohon lain untuk tumbang
Menanti pohon yang tidak pernah melihat ke arahnya
Maka rumput hanya akan menjadi penonton setia
Bertaruh dan membuat gaduh
Riuh
Dengarlah,
debam berulang mulai menjadi lebam
Tapi terlalu keras kepala memuja
yang mampu sebatas melirik saja
Berusaha menggapai pucuk bunga
yang mungkin lagi-lagi hanya halusinasi
Lirih, rintih
Maka langit akan menunjukkan takdirnya
dan sabar bukan lagi menjadi kata yang mudah dan begitu indah
Lelah, tapi tidak ingin menyerah
Berharap lupa atau tetap berusaha?
Saturday, June 29, 2013
Sunset
Apakah Bumi yang pergi meninggalkan
Atau Matahari yang mengucapkan selamat tinggal?
Saat purnama tinggi,
Apakah Bumi yang menatap rindu
Atau Rembulan yang menatap kangen?
Saat hujan turun,
Apakah awan yang berlarian tak sabar
Atau Bumi yang menyambut riang?
Entahlah.
Saat dua sahabat lama bertemu
Siapa yang menunggu, siapa yang datang
Jika dua-duanya berpelukan erat
Saat dua musuh berperang
Siapa yang memulai, siapa yang mengakhiri
Jika dua-duanya sama-sama binasa
Pun, saat sebuah hubungan terputus
Siapa yang pergi, siapa yang ditinggal
Jika dua-duanya sama2 terluka
Entahlah.
Monday, June 17, 2013
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sunday, May 12, 2013
Tutte le belle cose hanno une fine
Ia hanya harus menunggu lebih lama untuk dipermainkan oleh kata.
Ia hanya harus sedikit lebih kuat saat harus terbang lalu tiba-tiba dihempaskan hingga harus bertahan untuk tidak tenggelam.
Terkadang menjadi daun kering lebih baik menurutnya daripada harus menjadi bunga.
Kalau menantikan suatu akhir yang mengharuskan orang yang biasa bersamanya pergi, itu sama saja dengan berharap pada hujan badai yang sama sekali tidak menyeramkan.
Kalau merelakan memang sepahit ini rasanya, mungkin dari awal ia tidak akan mengambil resiko sejauh ia melangkah sekarang.
Tapi bukan penyesalan namanya kalau bukan muncul pada tiap akhir kisah.
Sangat tidak apa-apa sebenarnya, ketika ia selalu pada keadaan stabil yang dengan mudah membicarakan perasaan hanya sebatas hitam dan putih.
Sayangnya bukan itu yang ia rasakan.
Kadang rasanya ia ingin menjadi egois saja, meski ia tahu ia salah.
Tapi, hei, sebenarnya ia juga bukan selalu menjadi pendosa. Karena, astaga, ia tidak salah sepenuhnya.
Oh dear...
Ia hanya harus ingat bahwa terbang memang menyenangkan, tapi ada sesuatu di bawah sana yang siap menghancurkan atau dihancurkan.
Ia hanya harus ingat bahwa tenggelam dapat membuatnya bisa berenang. Tentu saja akan menyenangkan jika ia sudah bisa dan terbiasa berenang.
"Nggak perlu belajar terbang sama berenang atau menyelam sebenarnya, kalau kamu sudah bisa berjalan dengan benar."
Wednesday, February 20, 2013
Hujan Pergantian Tahun
Hujan turun dan kami senang bukan kepalang.
Menandakan bumi ingin menebarkan bau petrichor yang kami rindukan.
Membawa rasa baru yang menyeruak--membuat senyum di wajah menjadi ekspresi baru yang asing namun menenangkan.
Hujan turun dan kami mulai bosan.
Terkadang ingin merutuk bahkan mengutuk.
Tapi hujan membawa ekspresi menyenangkan asing yang sama--yang sering kami cari saat senyum itu tersembunyi.
Hujan turun dan turun semakin jarang.
Membawa kerinduan yang semakin lama semakin menyesakkan.
Membuat kami pusing tujuh keliling--mengais jejak yang hampir menghilang.
Hujan tidak turun sama sekali.
Tapi ternyata kami akan terbiasa.
Ternyata kami tetap memiliki hujan yang sama--yang membawa segala suka duka dengan gerimis dan badainya.
Hujan yang tidak akan menghilang dan ada sejak awal yang mengganggu cuaca hati kami.
Sunday, January 06, 2013
Matahari
Satu menit aku membuka mata, satu detik selanjutnya aku sudah menyimpan bayangan matahari di mataku.
Matahari tetaplah matahari di mana pun ia berada.
Wednesday, January 02, 2013
Selamat Tahun Baru 2013
hingga berakhir pada potret sempurna.
Bukan juga tentang kisah manis yang selalu
dihiasi air mata.
Ini tentang suatu lembar yang selesai diisi,
entah itu dengan tinta merah atau tinta emas.
Ini bukan tentang seorang gadis yang dulu tersipu
lalu sekarang berubah menjadi banyak mengeluh.
Bukan juga tentang seorang pemuda jatuh cinta
lalu tiba-tiba menjadi seorang yang menghujat cinta.
Ini tentang perjalanan melewati badai dan pelangi
yang memiliki kekuatan dapat merubah dunia.
“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about…”Selamat Tahun Baru 2013, Semoga semua urusan membawa manfaat yang baik bagi kehidupan.
— Haruki Murakami
Friday, December 28, 2012
Kepak
Entah karena kamu terlalu banyak minum kopi
atau bersenda gurau dengan kurcaci di kepalamu.
Aku merasa aneh dengan pelangi yang tergambar jelas di matamu.
Apakah tiba-tiba bola matamu berubah warna?
Atau itu hanya refleksi yang tersembunyi.
Kamu pasti sedang menaiki komidi putar paling dahsyat.
Karena tidak sengaja kulihat banyak bintang kecil
menari di sekitar kepalamu.
Lihat! bahkan warna wajahmu berubah menjadi ungu.
Apakah kamu terlalu banyak menghirup sesuatu?
Tapi tunggu, senyummu itu, aku tidak mengerti.
Bagaimana kamu bisa tersenyum dengan membawa
sedikit cahaya mentari.
Aduh berisik sekali, aku menemukan bunyi kepak yang sangat banyak,
banyak sekali dan saling berkejaran berasal dari perutmu.
Apakah itu kupu-kupu, sahabatku?
dedicated to Mia Thermopolis, my most favorite and stylish weirdo :p
(If you know what I mean)
p.s: Thanks to increase my creativity tonight and made me write this, Sissy
Thursday, February 09, 2012
Kebebasan
Karya: XII IA-8
(Teddy- Agus- Yogi)
350 tahun kau kekang diriku
Kau cabik-cabik tanah airku
Senyum manismu di awal
Membuat tanah airku menangis di akhir
Wahai pemudaku
Segeralah berontak tuk mencapai mimpi kita
Merah putih kami teguhkan
Kain biru kau koyakkan
Darah mengucur tak kau hiraukan
Dentuman peluru bersahutan
Membalas semua kesengsaraan
Menantikan sebuah memori indah
Tibalah saat berbahagia itu
Ketika matahari bangun sepenggal
Suara lantang kau gendrangkan
Membangunkan semangat-semangat yang padam
Menggendrangkan urat nadi bumi pertiwi
Untuk mencapai satu kata beribu makna
MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA!!!!
Yang lucu adalah, setelah puisi ini disalin, akhirnya banyak bagian puisi ini yang dihapus atau diubah. Malah, tulisan "MERDEKA" berganti dengan "MARDIKA" yang merupakan nama salah satu cewek di kelas.
How I miss high school so much :*
Wednesday, February 08, 2012
Surat Cinta Untuk Calon Suamiku Kelak
Kemarin, sepi membawamu padaku. Melewati hembusan asap, pekatnya malam, di antara bintang-bintang. Kucoba menerka rupamu lewat bulan, tapi bagaimana mungkin ia membuka rahasia Tuhan??
Jadi kubiarkan kau di sana. Membiarkanku bertanya-tanya di mana dan kapan kita akan bertemu. Apakah aku dalam keadaan terbaik saat bertemu denganmu atau saat paling memalukan?? Ataukah kita sudah bertemu sekarang??
Kita akan menjalin cinta yang memeluk kita manja, seperti pelangi yang selalu muncul usai hujan. Pelangi yang semoga tak akan pernah luntur sehingga aku tidak akan pernah takut jatuh meski banyak bahaya di bawah. Sesekali mungkin kita akan tergelincir, bahkan terkilir. Namun percayalah, setiap luka akan menjadi peramu tawa kita. Seperti retak pada tulang, yang jika diobati akan membuat tulang semakin kuat. Tulang yang akan selalu menjadi penopang rumah kita.
Rumah itu, suamiku, akan menjadi tempat kita membuat kehidupan baru. Tempatmu yang akan selalu bangun pagi bersamaku dan mengusap rambutku, hal yang paling kusuka. Kau akan berkata, "Aku sayang kamu." dan aku hanya akan tersenyum karena kau akan tahu jawabanku melalui dalamnya mataku dan manis sumringah senyumanku. Di sana kita akan bermimpi dan mengukir kenangan pada tiap sudutnya. Kau akan jadi imam bagiku, atap dan penghangat, pelindung segala resah. Aku akan jadi sejuk untukmu, pembasuh tiap peluh, penadah tiap lelah. Lalu waktu, akan menjadi lagu manis, pengiring kita berdansa oleh hasrat yang tak pernah habis.
Suamiku, untukmu aku akan melahirkan tangan-tangan dan kaki-kaki mungil. Lalu bagi merekalah kita akan menjalani hari. Kau akan mengajarkan kehidupan dan aku akan merawat penuh kelembutan. Mereka akan tumbuh dengan banyak kasih yang telah kita semai, juga ribuan dongeng sebelum tidur. Kita akan mendoakannya hingga dewasa, sampai alam memeluk kita. Tapi sebelum itu, kita akan saling berpeluk, melalui hari-hari bersama.
Kau yang akan menjadi masa depanku,
Kutuliskan surat ini pada bintang hingga dibawa peri-peri, sampai pada suatu malam mereka akan membawamu pada rinduku melewati sayap-sayap mimpi. Selamat tidur, sayang. Jalanilah hidupmu dengan baik hingga Tuhan menyatukan kita.
Monday, February 06, 2012
Sepucuk Surat Untuk Anakku Kelak
Anakku, mungkin kau belum mengenalku. Perkenalkan, aku adalah ibumu. Kenapa aku menuliskan tulisan ini? Agar kelak kau dapat membacanya. Saat kau sudah cukup besar dan mengerti susunan kata.
Anakku, kita akan sangat lama terpisah. Tapi aku sudah rindu padamu meski aku belum mengetahui siapa ayahmu kelak. Mungkin doa kami berdua masih tergantung di langit, menunggu dikabulkan dan mengantri dengan doa-doa lain di sana. Dan mungkin kita akan dipertemukan di saat yang indah.
Nak, aku berjanji, kelak aku akan menjadi ibu yang baik dan selalu menjagamu sejak kau masih berupa segumpal darah dalam perutku. Aku akan terus merawatmu sejak kau baru ditiupkan roh oleh Allah. Aku akan rajin berolahraga, dan selalu menjaga apa yang akan kumakan. Aku akan mengajakmu jalan-jalan bersama calon ayahmu. kami akan sering membacakan Surat Yusuf. Karena katanya, bila sedang hamil sering melantunkan surat tersebut, maka bayinya akan tampan. Dan surat An-Nisa agar kelask bila bayi perempuan, saat besar nanti akan menjadi wanita yang cantik dan saleha. Aku akan menceritakan banyak hal padamu.
Friday, February 03, 2012
Another Kahlil Gibran
Rasa sakitmu adalah pecahnya cangkang yang membungkus pemahamanmu
Bahkan ketika buah batu harus pecah, hatinya harus berdiri di bawah sinar matahari, saat itulah kau akan tahu tentang rasa sakit
Dan kau dapat membiarkan hatimu dalam pengembaraan keajaiban kehidupanmu, rasa sakitmu tidak akan terasa lebih aneh daripada kebahagianmu