Saturday, April 09, 2016

Creating Innovators by Tony Wagner

Hi guys,
I eventually start my reading project, and of course, my writing project in my blog. I understand that starting this new thing happened in my life as daily activity is uneasy. It is, however, something I need to do as training to build my habit to write. Please, judge. I open myself for every single advice from everyone as friend or (foe).
For the background, this first project elucidates a book for guiding educators as parents, lecturers, tutors, and teachers to have big image to lead young people become innovators for their nations.
I haven't read it more than five pages since I just bought the book about three hours ago. So, apologise for this swallow prolog.
Well, since this post implied my commitment to practice in writing, I think this explanation is sufficient for my declaration.

Regards,
Junior writer (I don't even understand why I called myself like that).

Friday, April 01, 2016

“Kita mencari orang-orang yang sudah selesai dengan urusannya masing-masing, mereka yang sudah diwakafkan keluarganya untuk publik” - Rhenald Kasali.

Bagus pak.

Tuesday, March 22, 2016

"Akhirnya gue paham kenapa meski orang baik belum tentu orang yang dia cintai bakal bareng sama dia. Simple banget. Karena orang baik belum tentu asyik. Well, kadang gue ngerasa ada cowok yang baik banget sama gue, sampe kadang gue luka dikit aja dia heboh banget sampe nggak rela. Tapi, insting gue lebih milih dia yang asyik diajak nantang dunia, yang kerjaannya bukan cuma baik banget sama gue tapi bikin gue pergi dari zona nyaman dan gue yakin kadang selain bikin gue tambah baik, maybe at some moments he just make me worse with no purpose. Karena gue yakin hidup juga bukan tentang jadi baik tanpa cela. Iman aja fluktuatif, apalagi kita sebagai individu. Pastikan aja, jodoh itu menentramkan dan membuat pola transformasi kehidupan kita. Jadi selain tentram dan nyaman, kita juga butuh yang namanya ample amount of insecurity untuk selalu mendekatkan satu sama lain, mengkritik satu sama lain, membaikkan satu sama lain. Jangan capek aja deh sebagai manusia yang udah berkomitmen satu sama lain buat selalu adaptasi. Ya kata orang-orang sih begitu, kalau udah nikah mah adaptasi nggak ada habisnya. PR besarnya adalah, pas kita ngambil keputusan 'fix gue mau nikah ama elu', kita udah harus ada di posisi nyaman dan yakin. Sisanya tinggal ikhtiar sama doa, berjuang mati-matian sampe mampus beneran dan abadi dunia akhirat. Gampang banget gue ngomongnya. Implementasinya belepotan. Tapi, indahnya berjuang kan selalu berusaha memperkecil persen eror, ya kan anak eksak?"

Yang penting sayang. *judul baper abis* *tapi nggak nyambung*

Setelah begitu banyak undangan berkeliaran di jadwal mingguan, saya sendiri ikut senang menyaksikan fenomena ini. Sedikit-sedikit dan secara bertahap saudara seperjuangan dan juga kakak senior bahkan junior saya melangkah dengan berani untuk menyempurnakan separuh agama.
Saya?
Ah saya masih begini-begini saja. Seperti dulu, kadang masih suka membaurkan tangan dengan yang lebih muda, lihat-lihat kampus. Kadang juga menjalani rutinitas biasa setiap hari di rumah, dengan kata lain belajar menjadi ibu rumah tangga. Saya yang dulunya menghabiskan waktu begitu banyak di kampus, tiap pagi mulai belajar memasak dan merutinkan apapun yang ibu rumah tangga lakukan, dengan, berusaha mewujudkan mimpi-mimpi dan obsesi saya. Jangan ditanya sudah berhasil atau belum. Didoakan saja.
Tapi, kawan, pada akhirnya semua ini memunculkan ketakutan tersendiri untuk menikah. Entahlah. It is not as easy as we think. Kadang, kalau melihat saya yang terbiasa menang, pada akhirnya akan sulit menyatukan prinsip saya dan pasangan nantinya. Tapi bicara tentang prinsip, saya mencatat kriteria utama calon adalah berprinsip dan bertujuan yang sama.
Bagaimana dengan emosi? Aduh, emosi saya kalau sudah baper suka amburadul. Mungkin memang harus belajar mendinginkan kepala dan didinginkan oleh calon suami ya. Hehe.
Pesan ibu saya, secara pribadi mensyaratkan selain agama dan prinsip yang sejalan, beliau selalu berkata untuk menemukan seseorang yang mencintai saya lebih dari saya mencintai dia. Alasannya mungkin terdengar egois ya, tapi memang pada akhirnya takar perasaan perempuan selalu bertambah selama bergulirnya waktu, berbeda dengan laki-laki. Perempuan akan mengabdi dan terus memberi lebih dari apa yang diterimanya. Tak heran ibu saya berpesan seperti itu mengingat ibu dan ayah saya adalah pasangan paling romantis sedunia yang sudah makan asam manis cinta. Tsaaaahh
Terlepas itu semua, menikah adalah perjalanan panjang yang bukan hanya enaknya saja. Tetapi kita akan belajar berjuang bersama. Akan ada masa ketika hari akan dihabiskan dengan pertengkaran yang tiada habisnya hingga mencari tujuan awal bersama akan sangat sulit, bahkan beberapa orang akan gugur untuk mengingatnya. Menikah tak sebercanda itu. Bayangkan betapa beratnya menikah dengan perumpamaan menyempurnakan separuh agama. Agama itu begitu berat dipikul, namun manis hingga jiwa jika berhasil meraihnya.
Alasan-alasan mengapa saya masih takut dan berpikir panjang, mungkin belum saatnya takdir itu datang mengetuk pintu rumahku dengan walinya dan membuat saya berani melangkahkan kaki ke sana. Meski takut begitu, saya selalu berharap semoga ketika ia datang, bukan hanya ia yang siap, namun saya juga. Pun begitu, semoga kami diberi sabar hingga memikul tugas berat untuk agama.
Kapan pun itu, kuharap apa yang kami berdua akan bawa nantinya akan abadi sebagai pasangan dunia akhirat. Yang menghadapi beratnya dunia dengan susah payah namun selalu bersama.

Jedekduuussssss! Untuk kedua kalinya, standing applause untuk yang sudah berani menikah.

Tuesday, January 05, 2016

Menjadi manusia bermental emas.

Beberapa peran yang sedang saya jalankan membuat saya bertemu banyak orang dengan karakter macam-macam. Saya sih asyik-asyik saja karena saya suka berinteraksi dengan karakter yang warna-warni. Cuma pada akhirnya saya menuju ke satu kesimpulan. Benar-benar terjadi memang. Bahkan terjadi di tiap lapisan masyarakat, dari yang katanya berpendidikan dengan lembaran ijazah, sertifikat, dan lainnya, hingga masyarakat kecil. Kita benar-benar mempunyai mental tunduk pada orang yang berkuasa. Beberapa kali menghadapi situasi di mana saya agak tidak dihargai sebagai partner kerja karena mereka berorientasi pada uang. Tidak masalah sih selama mereka profesional. Cuma ternyata kita terlalu banyak meminta sebelum memberi manfaat. Bagus kok kalau kita mempertahankan hak kita. Tapi kalau belum apa-apa sudah menuntut, beda lagi cerita. Sedangkan di televisi selalu marak berita minta ini-itu. Mulai masyarakat biasa seperti saya hingga papa minta saham dan lain sebagainya. Kalau ditegasi sedikit bisa melonjak marah, seperti pertengkaran lalu lintas yang tak ada habisnya. Kalau dimarahi atasan, salah atau tidak tetap diam. Hmmm.
Ada lagi keadaan di mana atasan yang berkuasa sok menjadi penguasa segalanya. Katany sih, mem-fir'aun-kan diri sendiri. Tapi kata mereka, nyatanya kita-kita sendiri yang juga memperlakukan mereka seperti fir'aun. Aduh, hidup begini susahnya. Jangan menyerah saja. Sudah banyak yang melenyapkan prinsipnya sendiri. Jangan jadi begitu. Menaruh empati dan toleransi pada tempatnya. Seperti menempatkan ketegasan dan profesionalitas pada penyeimbangnya.

Monday, January 04, 2016

Semakin ke sini, semakin tua, semakin bertambah dewasa, hidup itu tidak melulu sederhana. Karena kita sendiri yang meribetkan, membuat tata aturan yang membingungkan yang untuk dipatuhi pun susahnya setengah mati. Semakin ke sini, rasanya idealisme mulai terancam di sana sini. Maunya sih tetap tidak mau kalah. Rasanya sedih sekali melihat bagaimana hidup dahulu mengimpikan masyarakat madani yang begitu indah. Semakin ke sini, begitu banyak melihat keterpurukan hidup. Seringkali melihat orang yang dulunya bisa angkuh pada akhirnya menunduk patuh. Rasanya begitu sering muntab melihat negeri ini menjadi begitu lucu dan sarkastik. Bukan mau sok idealis, cuma mumpung masih berapi-api. Takutnya nanti idealisme kami jadi berkurang separuh atau lebih. Mumpung sisa perjuangan masih ada dan tidak ingin sampai dibiarkan mati. Dibilang ini ego sendiri pun tak masalah selama bisa memberi sesuatu untuk sekitar saya. Dibilang mau sok puitis tidak apa-apa. Mumpung ego untuk berkarya demi bangsa masih membara. Kalau hidup pun, maunya bisa berdiri bangga pada akhirnya. Bangganya bukan masalah pencapaian hidup sih, lebih ke peran untuk menginspirasi orang bagaimana berbuat lebih. Memuaskan hati yang abadi itu bagaimana membuat orang senang dengan cara yang baik.
Mumpung egonya masih tinggi. Ego untuk berambisi. Yang paling penting, hidup itu tanggung jawab, bukan membuat capaian-capaian untuk memuaskan ego diri sendiri. Tapi bagaimana memengaruhi orang lain.
Sudah membuat tulisan begini, jangan sampai berhenti di niat sama omongan aja sih.

Saturday, November 07, 2015

Karena kamu selalu tidak habis pikir bagaimana perasaan seseorang akan berubah, padahal kamu sudah diingatkan ribuan kali bahwa hati bisa dibolak-balikkan dengan mudah.

Wednesday, August 19, 2015

Salat Tepat Waktu

Questions always have answers when we seek about it.

"Sepertinya tanda kiamat sudah dekat, waktu rasanya kok cepat sekali." Well, this phrase is really common this day.

"Aku juga merasa begitu. Tapi ternyata nggak begitu juga. Waktu bisa menjadi lapang kalau dibuat seperti itu."

"Maksudnya?"

"Kemarin-kemarin saat merasa waktu terlewat begitu cepat ternyata ada obatnya. Aku sering mengakhirkan salat. Saat salat tepat pada waktunya, rasanya berbeda sekali."