Tidak ada agama paling sempurna selain Islam.
Ia mengatur bukan hanya tentang diri tetapi juga orang lain, tentang nasehat menasehati (kehidupan bermasyarakat), tentang pemerintahan dan pentingnya pemimpin bahkan di lingkungan paling kecil yaitu keluarga (Qowwam), tentang ilmu pengetahuan langit dan bumi, tentang akhlak, tentang iman, tentang nikmat dan duka, tentang kabar gembira dan peringatan, dan hal lain yang saya belum sampai di tahap mengetahui.
Sangat disayangkan jika ada seseorang yang mempelajari muamalah tanpa mengetahui dasarnya, memoles akhlaknya, belajar bermasyarakat dan lain sebagainya.
Karena Islam adalah satu keutuhan yang sempurna di setiap bidang. Islam yang baik dalam diri kita adalah islam yang dapat menyatukan segalanya. Islam yang menjadi dasar kehidupannya.
Jika Islam di dunia ini tidak baik karena orang-orang yang menganutnya, maka yang salah adalah orangnya, bukan Islam-nya.
Saya sungguh belum menjadi orang sebagaimana di atas, Jauh, jauh sekali rasanya. Yang ada saya sering salah, sering jahat, sering khilaf.
Wednesday, April 08, 2015
Monday, April 06, 2015
4-6-2015
Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.
-Imam Syafi'i
Friday, March 13, 2015
Saturday, March 07, 2015
Belajar, belajar, belajar terus
Rasa. Kalau dibahas tidak ada habisnya. Belakangan sepertinya kami terlalu sempit mendefinisikan rasa. Jatuh, terlalu dalam. Rasanya harus siap dihempaskan ribuan kali bahkan ketika kami sadar kami belum sampai hingga dasarnya.
Meronta. Mau lari pun apa daya. Rasa kami begitu menjadi biasa seperti udara. Begitu alami, bahkan terkadang lupa. Hanya mulai sadar ketika memang hampir menghilang, entah pergi atau melarikan diri.
Perih. Kami harus terbiasa dengan sakitnya. Karena, sungguh, ini membuat kami bahagia tapi hukum alam selalu mempunyai reaksi pada setiap aksi. Maka kami selalu waspada terhadap sedih. Heran sekali, rasanya begitu menyayat hati meski kami sudah waspada setengah mati.
Lalu, bagaimana dengan kami? Pada dasarnya memang bukan akhir yang dicari, karena frasa "bahagia selamanya" bukanlah akhir. Melainkan perjalanan yang harus dilalui. Jadi, bagaimana kalau belajar menikmati perjalanan saja? Lalu membuat semua menjadi rutinitas yang jika tidak ada akan terasa akibatnya.
Posted in:
Heart matters,
Poetries
Monday, March 02, 2015
Tuesday, February 17, 2015
Counting
Menghitung. Menghitung.
Ini saya sedang menghitung waktu dan rencana. Mulai dari kewajiban hingga hak-hak yang seringnya terlewatkan. Apalah sudah, bukan bermaksud tidak menikmati kewajiban yang ada. Tapi ada list yang meronta untuk diwujudkan. Apalah daya, rasanya waktu semakin menghimpit sedangkan diri ini tidak tahu kapan hitungan ini berhenti.
Saya sungguh ingin mendaki gunung.
Beberapa orang akan berkata "hanya wacana", padahal mereka tidak mengerti diri ini ingin sekali mewujudkannya. Beberapa mimpi ingin menikmati ombak dan pasir di batas daratan. Beberapa mimpi ingin menikmati bianglala di taman hiburan. Permintaan yang banyak menurutmu? Saya tidak yakin apakah itu disebut terlalu serakah atau foya-foya. Sekarang sering sekali merasa bahwa waktu luang adalah nikmat yang kita remehkan. Mungkin hanya butuh berkata iya saat ada yang mengajak. Atau butuh ditemani saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Anggaplah sebagai ibadah karena alam untuk dinikmati dan memuji nama-Nya.
Ayo jalan-jalan.
Posted in:
Activities,
Addicted,
babbling,
Dreams and Targets,
Events,
Heart matters,
Hobbies
Subscribe to:
Posts (Atom)
