Sunday, January 05, 2014


Kau tau nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi diperut bumi.
Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya,
maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara.
Keras, Kokoh, Mahal Harganya.
Sama halnya dengan kehidupan,
seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya,
jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan.

*diambil dari Novel “Negeri Diujung Tanduk” -Tere Liye-

Sajak yang tak akan pernah kau mengerti.

Yang sedang menari telah dipaksa berhenti
Nyatanya memang tidak semudah itu memaksa sesuatu

Ada segerombol kupu-kupu memaksa terbang, ini seperti lomba lari
Tapi sebenarnya yang terburu dan belum masanya tidak akan berujung baik

Bianglala dan permen kapas memenuhi malam-malam yang ramai
Nyatanya di sini ramai tetaplah berarti sepi

Apa yang diam tapi dapat membunuh apapun
Semoga segera menemukan jawaban yang paling baik

Thursday, January 02, 2014

"We can't stop, we won't stop."

-Miley

Tentang berbagi dan mencintai.

Pertama, tidak ada yang memaksa saya ketika pertama kali saya mengiyakan untuk menjalani peran yang sekarang menjadi tanggung jawab saya. Tidak ada. Jika lain cerita, meski ada pun, bukan berarti itu salah orang yang memaksa saya, karena apa-apa yang diputuskan seseorang dalam hidupnya sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri dengan menikmati semua konsekuensi yang ada. Itu perlu dicatat, dipahami, dan ditekankan.

Kedua, saya mempunyai tanggung jawab menjalani dari awal hingga akhir, membuat apa-apa yang sedang saya usahakan menjadi baik. Tanggung jawab itu bukan sekadar menjalani dengan apa adanya, melainkan tentang perencanaan matang dan target-target serta mimpi-mimpi.

Ketiga, pernahkah saya merasa lelah dengan keadaan yang menjemukan, bahkan mungkin pada keadaan non ideal yang terjadi? Tentu saja sering. Tapi yang perlu diingat, saya tidak pernah harus berjuang sendiri. Selalu ada orang-orang yang membantu saya, membuat saya merasa bahwa pada akhirnya memang manusia diprogram bukan hanya tentang intelegensia melainkan tentang hati. Adakah orang yang selalu merasa sendiri? Selalu? Ah, tentu tidak. Saya pun pernah mengalami perasaan sendirian itu. Pada akhirnya, memang perasaan kitalah yang salah, melenceng, bahwa pada dasarnya kita tidak pernah dibiarkan sendiri. Hanya tentang kita sendiri yang terkadang tidak ingin diganggu.

Ini tentang saya dan keluarga saya. Keluarga yang tanpa ikatan darah. Mengapa saya masih ingin memperjuangkannya?

Seseorang berani memperjuangkan sesuatu mungkin karena dua alasan. Pertama, karena merasa mencintai dan menyukai apa yang ia kerjakan. Kedua, karena ia merasa ketika bukan ia yang berada dalam lingkar perjuangan estafet itu, lalu siapa lagi? Saya berada dimana? Jangan tanya.

Saya mencintai apa yang sedang saya kerjakan dan saya merasa memang jika bukan kami, siapa lagi? Ada hal yang perlu diluruskan, bahwa memperjuangkan berarti bukan tentang pribadimu sendiri. Ketika kamu masih merasa egois dan berkutat dengan dirimu sendiri, saya sarankan berhentilah. Karena saat apa-apa yang kamu harapkan tidak tercapai, kamu akan marah. Bukan, semua ini bukan tentang aku atau kamu. Ini tentang berusaha membaikkan suatu hal yang ingin kita ubah. Ini tentang keikhlasan merelakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk senantiasa berbagi. Ini tentang keniatanku, keniatanmu, semangatku, semangatmu, untuk percaya kepada mimpi.

Ikhlas itu susah.  Iya. Omong kosong ketika seseorang berkata ilmu ikhlas itu mudah. Tapi, ikhlaslah untuk memberi dan temukan alasan mengapa kamu harus ikhlas dengan itu. Maka setelah itu, yang kamu tahu adalah kamu tidak pernah merasa kehilangan apapun.

Merasa capeklah ketika harus capek, yang perlu kita sadar adalah, sadar dirilah. Ketika kita baru memberi seberat kapas, bagaimana dengan yang telah memberikan semangka.

Ini bukan tentang aku, bukan tentang kamu, sungguh.
Ketika bukan lagi pribadi yang diperjuangkan maka kamu tidak akan merasa sendirian.
Maka, ketika kamu belum menemukan alasanmu, carilah alasanmu berada di sini, bersama kami.
Dan ingatlah, bahwa kita bukan hanya tentang kabinet, staf ahli, dan staf muda.
Ini tentang berbagi dan mencintai, berjuang dan bangkit bersama. Bukan tentang aku atau kamu.


Izzah Aula Wardah, Kepala Biro Kaderisasi
Kepengurusan HIMA ELKA 2013/2014



Hei kawan, jangan takut jangan resah
Bila lampu kamar mulai dipadamkan
Ku kan slalu menyanyikan lagu ini
Hingga nanti kau tidur berselimut mimpi

Asyiknya jadi perempuan, kamu selalu bisa berperan jadi ibu dan juga anak kecil.
Anak kecilnya sedang ingin bermain.

Kepergian dan Layang-layang

Apa yang sedang kaulihat dari sana?

Entah seberapa dalam luka yang tidak sengaja kita buat pada suatu malam
lalu kau meninggalkanku terlelap sendirian dengan sekawanan kupu-kupu
kehilangan yang memenuhi rongga udara

Meski begitu aku mulai terbiasa dengan perasaan timbul tenggelam tiap pagi
yang mungkin hanya aku saja yang merasa
sebab mungkin tidak ada yang perlu disesali dari sebuah kepergian

Aku teringat bahwa dulu kita adalah sepasang pertanyaan dan jawaban
yang awalnya tidak pernah saling mengenal
namun pada akhirnya saling membutuhkan

maka aku akan berhenti menarikmu ke daratan--
kubiarkan kau menjadi layang-layang yang terbang bebas

Tentang perempuan, buku, baju, dan sepatu.

Maaf, bisa saya spesifikkan lagi yang dimaksud perempuan mungkin difokuskan kepada saya. Saya, buku, baju, dan sepatu. Yang perlu diketahui, ketiga hal itu memang perempuan banget. Tapi saya jadi paham yang dimaksud dengan kepuasan semu dan hakiki. Kepuasan semu itu bisa dianalogikan ketika kamu sangat tersilaukan oleh benda-benda tersebut, namun setelah itu, kamu akan menyesal membelinya, membuatmu boros setengah mati. Dan yang tertinggal hanya ratapan ke dalam dompet dengan bunyi "hiks". Itu terjadi ketika kamu melihat baju dan sepatu yang menarik. Untungnyaaaaa, saya tidak boros-boros amat. Hanya saja kalau memang sudah kepingin beli bangeeet, harus nahan-nahan.
Berbeda dengan analogi kepuasan hakiki. Kepuasan hakiki itu bisa dianalogikan ketika kamu mengunjungi toko buku. Di sana, kamu akan menyukai begitu banyak buku, sama halnya ketika kamu menyukai baju dan sepatu. Hanya saja kamu dapat membacanya, entah hanya pada sampul belakang atau kebetulan menemukan buku yang sudah tidak tersegel (biasanya kalau saya sudah terlanjur SANGAT tertarik, sedikit merusak segel bisa kali ya). Hal menariknya adalah, sesingkat apapun waktumu membacanya, kamu akan memasuki dunia di mana hanya ada tentang kamu dan buku itu. Melupakan semua hal yang membuatmu resah, marah, jengkel, rindu, bahagia, dan lain sebagainya. Dan dunia baru yang kamu kunjungi memang tidak selalu menyenangkan, tapi kamu bisa beralih ke buku yang lain untuk mencari dunia yang menyenangkan. Jadi, saya selalu tahu harus berlari ke mana selain bersujud. Bukankah ibadah bukan hanya tentang berada di atas sajadah? Mencari ilmu juga ibadah, kan?

"Sebaik-baik teman duduk adalah buku." - La Tahzan Book