Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang telah kehilangannya. Kehilangan yang ternyata meninggalkan penyesalan mendalam. Penyesalan yang belum bisa kurelakan.
Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya selalu bersedih hati saat mengenangnya. Bahkan pada kenangan indah. Bukan, bukan salah kenangan atau salah Ayahku. Ini salahku sendiri, merasa begitu menyia-nyiakan banyak waktu ketika beliau masih ada.
Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang akan menangis hingga sesak ketika aku begitu merindukannya. Lalu berharap waktu akan kembali dan aku memperbaiki segalanya. Melakukan segalanya hingga berharap sedikit saja beliau akan bangga terhadapku.
Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang seringkali menjadi egois dan menginginkan beliau kembali. Seharusnya beliau ada saat aku diwisuda, atau saat pernikahanku, atau saat aku melahirkan anak pertamaku. Setidaknya Ayahku harus menyeleksi calon imamku.
Kamu masih punya Ayah?
Jangan sepertiku yang pada akhirnya masih sering tidak dapat memaafkan diri sendiri karena menjadi anak yang tidak keren. Jangan sepertiku yang pada akhirnya belum dapat berdamai dengan kenyataan. Jangan sepertiku yang belum bisa membuatnya bangga.
Kamu masih punya Ayah?
Sekarang kamu sudah belajar dariku. Setidaknya jangan menjadi sepertiku.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bpakmu, hanya kepadaKUlah kembalimu (QS.Luqman : 14)
Saturday, May 31, 2014
Kamu Masih Punya Ayah?
Posted in:
Family,
Heart matters,
Islam,
Point of views,
Relationships,
Verses in Quran,
Writings
Last Day of May
Bulan Mei kali ini tidak seperti biasanya. Begitu sederhana begitu mengajarkan dewasa. Semoga terus baik dalam segala hal. Semoga apa-apa yang dilakukan bermuara pada Sang Agung.
Selamat Ulang Tahun juga untuk Surabayaku.
Selamat Ulang Tahun juga untuk Surabayaku.
Posted in:
babbling,
Events,
Heart matters
Ada yang menggetarkan Arsy-Mu pada dini hari ini.
Ada yang menangis untuk-Mu pada dini hari ini.
Terima Kasih sudah mau mendengarkan Ya Allah. Sedang belajar ikhlas di jalan-Mu.
Ada yang menangis untuk-Mu pada dini hari ini.
Terima Kasih sudah mau mendengarkan Ya Allah. Sedang belajar ikhlas di jalan-Mu.
Posted in:
babbling,
Heart matters,
Islam
Friday, May 30, 2014
Inikah? Entah
Menyerahlah. Bila kau tak punya nyali dan hanya pasrah. Kau tahu, aku resah.
Menjauhlah. Bila kau hanya mengajakku berlari bersama tanpa arah. Kau tahu, itu lelah.
Pergilah. Agar tak membuat luka menjadi semakin parah. Membangun harapan lalu melenyapkannya hingga musnah. Kau tahu, aku mulai marah.
Semerah darah yang mengalir dalam nadi, sekuning bunga matahari, sepucat muka yang sangat pasi, sehitam arang legam yang mulai terbakar api. Itulah situasi hati seorang gadis yang sudah, sedang, dan akan belajar mencintai makhluk lain bernama lelaki.
Menjauhlah. Bila kau hanya mengajakku berlari bersama tanpa arah. Kau tahu, itu lelah.
Pergilah. Agar tak membuat luka menjadi semakin parah. Membangun harapan lalu melenyapkannya hingga musnah. Kau tahu, aku mulai marah.
Semerah darah yang mengalir dalam nadi, sekuning bunga matahari, sepucat muka yang sangat pasi, sehitam arang legam yang mulai terbakar api. Itulah situasi hati seorang gadis yang sudah, sedang, dan akan belajar mencintai makhluk lain bernama lelaki.
-Febrina Anggitasari
Ini tulisan buagus sama jleb. hahaha.
Posted in:
Perempuan,
Point of views,
Repost
“Nasehatilah isteri-isteri kalian dengan cara yang baik, karena sesungguhnya para wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya (paling atas), maka jika kalian (para suami) keras dalam meluruskannya (membimbingnya), pasti kalian akan mematahkannya. Dan jika kalian membiarkannya (yakni tidak membimbingnya), maka tetap akan bengkok. Nasehatilah isteri-isteri (para wanita) dengan cara yang baik.” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Surat Cinta Untuk Calon Suamiku Kelak (2)
Kamu tahu, aku sadar aku tidak sempurna. Aku sadar aku jauh dari apa-apa yang orang katakan, yang seringkali menurutku terlalu baik. Ada beberapa hal yang kutahu aku masih sering kalah untuk melakukan yang benar. Kadang pun aku kurang sabar. Seringkali juga merasa tidak ikhlas tentang sesuatu.
Iri? Ah, hati ini menjadi jelek sekali ketika ada rasa iri, curiga, cemburu. Seolah-olah apa yang kita miliki sekarang bukan titipan Yang Maha Agung saja. Seolah-olah kita akan hidup selamanya. Lalu apa-apa yang kita anggap kita miliki akan terus bersama. Padahal sesungguhnya saat lahir kita sendirian maka saat kita meninggalkan dunia ini pun akan tetap sendirian.
Untuk kamu, apakah menurutmu saat kita mengikat janji nanti, saat kita memutuskan untuk menyempurnakan agama bersama akan terjadi sebentar lagi? Dua tahun? Tiga tahun? Aku tidak tahu. Kamu pun juga tidak tahu, bukan? Untuk sementara aku akan terus belajar menjadi pendampingmu yang baik. Kalau kita saling mengikat sekarang, aku takut kamu akan kecewa aku belum bisa memasak. Lalu aku akan memberimu apa setiap pagi?
Jangan tertawa, aku juga heran mengapa aku belum bisa memasak. Tapi aku berjanji aku akan belajar. Biar kamu juga tidak malu. Tapi aku akan senang kalau kamu tidak terlalu memedulikannya.
Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sedang terjebak dalam rutinitas yang begitu-begitu saja? Tidak apa-apa. Aku harap kamu selalu dalam dekapan Tuhan hingga Tuhan mendekap kita berdua.
Sebenarnya surat ini berisikan rinduku padamu. Tapi aku bingung aku harus memulai darimana. Selain itu, aku penasaran akan sesuatu. Ini bermula ketika aku merindukan Surga. Begitu rindu hingga aku benar-benar merasa tawakkal bagaimana Tuhan akan membawaku kesana. Kapan ya kira-kira? Apakah saat aku baru saja bertemu denganmu? Atau setelah kita menjalani kehidupan bersama untuk waktu yang lama?
Kamu. Kalau semisal aku telah kembali kepada Surga sebelum kita saling mengikat janji, sebelum aku dan kamu bersama dengan jalan yang Tuhan inginkan, apa yang akan kamu lakukan? Jika aku baru saja merasa bahagia telah bersamamu, lalu aku diambil ke Surga, apa yang akan kamu lakukan? Dan jika kita telah bersama-sama hingga tua dan Surga memanggilku terlebih dahulu, apa yang akan kamu lakukan?
Aku sungguh sedih memikirkannya. Apakah ini karena aku terlalu mencintaimu hingga melebihi cintaku pada-Nya? Ataukah memang seperti ini membayangkan perpisahan meski hanya perpisahan raga? Bolehkah aku sedikit merenunginya?
Kamu. Aku tidak akan melarangmu bersedih ketika aku pergi. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan. Nanti aku akan ikut bersedih. Aku ingin menantimu di sana, maka kamu harus baik-baik di dunia ini. Jalani yang baik, tinggalkan yang buruk.
Jika kamu yang akan meninggalkanku terlebih dahulu, apa yang akan aku lakukan? Aku akan melanjutkan hidup, tapi aku akan membersamaimu dalam kenangan. Aku akan begitu merindukanmu dan menantikan pertemuan kita.
Maafkan aku membuat surat seperti ini. Aku merasa sedih.
Kamu. Aku harap kamu menjalani hidupmu dengan baik. Kalau memang kita ditakdirkan untuk disatukan, maka kita akan menjadi satu. Entah di sini atau di sana. Aku ingin mencintaimu karena-Nya.
Barakallah untuk kamu.
Iri? Ah, hati ini menjadi jelek sekali ketika ada rasa iri, curiga, cemburu. Seolah-olah apa yang kita miliki sekarang bukan titipan Yang Maha Agung saja. Seolah-olah kita akan hidup selamanya. Lalu apa-apa yang kita anggap kita miliki akan terus bersama. Padahal sesungguhnya saat lahir kita sendirian maka saat kita meninggalkan dunia ini pun akan tetap sendirian.
Untuk kamu, apakah menurutmu saat kita mengikat janji nanti, saat kita memutuskan untuk menyempurnakan agama bersama akan terjadi sebentar lagi? Dua tahun? Tiga tahun? Aku tidak tahu. Kamu pun juga tidak tahu, bukan? Untuk sementara aku akan terus belajar menjadi pendampingmu yang baik. Kalau kita saling mengikat sekarang, aku takut kamu akan kecewa aku belum bisa memasak. Lalu aku akan memberimu apa setiap pagi?
Jangan tertawa, aku juga heran mengapa aku belum bisa memasak. Tapi aku berjanji aku akan belajar. Biar kamu juga tidak malu. Tapi aku akan senang kalau kamu tidak terlalu memedulikannya.
Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sedang terjebak dalam rutinitas yang begitu-begitu saja? Tidak apa-apa. Aku harap kamu selalu dalam dekapan Tuhan hingga Tuhan mendekap kita berdua.
Sebenarnya surat ini berisikan rinduku padamu. Tapi aku bingung aku harus memulai darimana. Selain itu, aku penasaran akan sesuatu. Ini bermula ketika aku merindukan Surga. Begitu rindu hingga aku benar-benar merasa tawakkal bagaimana Tuhan akan membawaku kesana. Kapan ya kira-kira? Apakah saat aku baru saja bertemu denganmu? Atau setelah kita menjalani kehidupan bersama untuk waktu yang lama?
Kamu. Kalau semisal aku telah kembali kepada Surga sebelum kita saling mengikat janji, sebelum aku dan kamu bersama dengan jalan yang Tuhan inginkan, apa yang akan kamu lakukan? Jika aku baru saja merasa bahagia telah bersamamu, lalu aku diambil ke Surga, apa yang akan kamu lakukan? Dan jika kita telah bersama-sama hingga tua dan Surga memanggilku terlebih dahulu, apa yang akan kamu lakukan?
Aku sungguh sedih memikirkannya. Apakah ini karena aku terlalu mencintaimu hingga melebihi cintaku pada-Nya? Ataukah memang seperti ini membayangkan perpisahan meski hanya perpisahan raga? Bolehkah aku sedikit merenunginya?
Kamu. Aku tidak akan melarangmu bersedih ketika aku pergi. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan. Nanti aku akan ikut bersedih. Aku ingin menantimu di sana, maka kamu harus baik-baik di dunia ini. Jalani yang baik, tinggalkan yang buruk.
Jika kamu yang akan meninggalkanku terlebih dahulu, apa yang akan aku lakukan? Aku akan melanjutkan hidup, tapi aku akan membersamaimu dalam kenangan. Aku akan begitu merindukanmu dan menantikan pertemuan kita.
Maafkan aku membuat surat seperti ini. Aku merasa sedih.
Kamu. Aku harap kamu menjalani hidupmu dengan baik. Kalau memang kita ditakdirkan untuk disatukan, maka kita akan menjadi satu. Entah di sini atau di sana. Aku ingin mencintaimu karena-Nya.
Barakallah untuk kamu.
Dari Aku.
Posted in:
Heart matters,
Islam,
Letters,
Point of views,
Relationships,
Writings
Menjadi Perempuan (4)
"Kapan pulang?" Kata perempuan itu.
"Belum tahu. Masih ada yang harus dikerjakan." Lelaki itu menjawab.
"Oh ya sudah, semoga selalu dilancarkan, Nak."
"Kamu tidak ingin pulang? Ibu sudah kangen kamu."
"Ingin sih, tapi sibuk. Ibu tidak kangen kok. Cuma tanya kapan pulang."
"Itu namanya Ibu kangen."
"Kenapa tidak bilang saja kangen kalau memang kangen?"
"Ya ampun, perempuan itu memang begitu. Tidak bisa bilang secara langsung. Kalau Ibu bertanya kapan pulang berarti sedang kangen."
Lalu kamu bersungut, sedangkan aku menebak isi kepalamu yang terlalu sederhana untuk menerjemahkan rumitnya bahasa perempuan.
Perempuan dan bahasanya adalah misteri. Kalau lelaki lebih sering mengatakan langsung apa yang dia maksud, perempuan justru sebaliknya. Kadang meski telah sering belajar memahami, mereka akan membawa kejutan tentang perasaan dan emosi yang indah dan mengerikan. Tidak apa-apa. Kalau perempuan sama dengan lelaki apa serunya? Bukannya kedua makhluk ini memiliki keistimewaan yang berbeda untuk saling melengkapi?
n.b.: percakapan diadaptasi dari cuplikan novel rantau 1 muara
n.b.: percakapan diadaptasi dari cuplikan novel rantau 1 muara
Posted in:
Heart matters,
Perempuan,
Point of views,
Writings
Anak-anak mungkin menutup telinga untuk nasihat, namun mata mereka selalu terbuka untuk contoh. Be a good role model.
Posted in:
Quotes
Subscribe to:
Posts (Atom)