Saturday, September 13, 2014

Muka Ibu-ibu, Aslinya Masih Unyu-unyu

"Ini Kabiro Kaderisasi, Mbak Izzah, ya." Kata MC (ELKA 2013) saat serah terima jabatan, "beliau ini, sungguh keibuan sekali."

hahahaha ngakak. Jadi ingat si Mbak Rahma di tempat kerja ditanyain sebelahnya, "Mbak Icha yang sering sama kamu itu, anaknya sudah berapa?"

Oh meeeeen -_____-"

Di sisi lain ada yang mengira saya masih mahasiswa baru.

Ibu Keren

"Lihat-lihat dulu nduk, kamu kepingin ambil beasiswa S2 tujuannya untuk apa. Kalo aku memang sengaja kepingin Eropa soalnya akses kemana-mana mudah, sekalian jalan-jalan. Hehe. Ada temenku cewek malah kepingin sampai S3, niatnya untuk mendidik anak. Kalau sudah tahu tujuannya, jadi lebih mudah menentukan tujuan tempatnya. Paling enak lagi kalo kuliah sudah ada pendamping jadi bisa saling mendukung. Apalagi kamu cewek lho."
Hendra - Meka 2010

Oh. Wow. Sekolah tinggi untuk mendidik anak. Saya setuju sekali sama tujuan mbak kece di atas. Harus jadi Ibu bijak dan cerdas untuk mendidik anak. Bahkan dosen saya pernah bilang, "Kuliah itu bukan hanya tentang akademiknya, sebenarnya kuliah itu bagaimana cara mengembangkan diri dan pola pikir. Lihat saja yang besar di jalanan dengan yang besar di instansi pendidikan. Ada bedanya, kan?"

Semangat!

Friday, September 05, 2014

On the night like this.

Ada kaca yang belakangan sering saya gunakan karena sepertinya sudah lama saya khilaf tidak menggunakannya. Dan itu kamu. Iya, terima kasih sudah diingatkan sebegini banyak.
Lalu ada kaca tanpa cacat dan tanpa cela. Dikhianati pun tidak pecah, tidak rusak. Dan itu Tuhan, sebagai kaca berikutnya. 
Kalau sudah berkaca dengan baik berarti sudah menemukan apa yang kurang. Kalau sudah menemukan yang kurang berarti sudah tahu tindakan yang akan diambil. Nah, karena sudah tahu yang seharusnya dilakukan, bukan dimengerti saja. Ilmu tidak digunakan ya sama saja, lama-lama lupa lagi. 
Cambuk diri sendiri itu penting. Lebih penting dari cambuk untuk orang lain. Setidaknya manusia berubah untuk lebih baik pasti yang pertama untuk dirinya sendiri. Tapi pada akhirnya akan berdampak pada lingkungan. 
Kalau sering dicurhati orang tentang masalah mereka, lalu bisa memberi saran yang keren sekali, harusnya cambuk diri saya juga berfungsi sama untuk diri saya.
Masalah itu bukan dihadapi dengan cara yang jahat. Bukan diperangi dengan senyum masam, bersedih hati, dan sengsara. Bukan diambil jeleknya saja. Tapi harus bersahabat dengannya, memeluknya erat-erat, jadi sahabat. Karena hidup itu persoalan ketentraman hati. Seh-mah-ngat!


On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
Cause When you're around
I can fall in love every day

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...


Tiba-tiba berasa unyu dan dramatis dan romantis dan berlebihan, meski jadinya bisa mewek, ketawa, senyum, diem, bikin resek, dibalesin resek, mem-bully, di-bully, dan sebagainya. Tapi biarkan saja, yang penting mengarah ke hal yang baik.

Dipeluk Malaikat

Kamu tahu nangis yang nggak ada yang puk-puk atau peluk tapi rasanya malah kayak dinaungi ribuan malaikat langit? Merasa tenang meski menangis karena ternyata kamu butuh?
Pas kamu sujud, pas kamu sholat, pas kamu lagi asyik dan anget banget berduaan sama Allah, yaitu saat kamu berdoa yang tulus dan doa yang baik. Saat-saat begitu, kamu bakal jadi lebih kuat terus. Ternyata di saat tersepi pun kamu bisa merasa ramai.

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912).

Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?
Maka apakah kamu tidak memikirkan?
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

-As-Saffat : 154-156

Loh, Cha. Ditegur Allah pake banget. Hiks

"I open at the close."

Thursday, September 04, 2014

Tuhan Sedang Cemburu

Tuhan sedang cemburu habis-habisan kepadaku. Alhamdulillah.
Kalau sedang dicemburui begini, jadi susah konsennya kemana-mana. Sedikit jauh dari keramaian, melamun dan mudah terbawa sedih. Mau mengerjakan apa-apa juga akhirnya galau sendiri. Ih.
Tapi yang penting doanya harus semakin keren. Kalau dicemburui begini, berarti masalah yang datang juga bakal keren, jadi ini tandanya mau naik level. Sudah ada tangganya. Tinggal memilih mau naik atau tidak. Kalau sudah memilih naik, harusnya usahanya juga keren biar levelnya keren.

Terima kasih sudah cemburu, Tuhan. Terima kasih sudah menyayangiku sebegini kerennya. Yang ini, saya nggak mau menyerah.

Wednesday, September 03, 2014

Angkuh dan Tuli

"Inna sa'yakum lasyattaa"
Sungguh usaha manusia itu bermacam-macam. (QS. Al-Lail:4)

"Kamu, tidak pernah ada yang memaksa kamu harus berjuang seberapa gigih atau seberapa keras tentang sesuatu. Lagi-lagi karena parameter setiap orang itu berbeda dan tidak mungkin kamu memuaskan setiap orang. Yang perlu diingat, jangan pernah menjadi angkuh dan tuli, merasa paling sempurna dan tidak melihat sekitar. Berusahalah yang baik, karena usaha selalu berbanding lurus dengan hasil. Jangan melupakan lingkunganmu. Jangan pernah lelah untuk berbagi. Karena kamu akan merasa kaya saat kamu memberi banyak. Barakallah kamu."

Tulisan itu sengaja kutulis untukku sendiri, sebagai pengingat diri. Sengaja kutulis di catatan kuliah, rapat, dan curhat dalam satu buku yang sama. Buku yang kubeli bersamanya.

Ada pesan singkat yang lumayan panjang yang sengaja kusimpan. Pesan singkat bernada sarkas namun berpuisi dan bersajak. Tumben sekali kan? 
Itu adalah pesan singkat yang selalu membuatku sedih ketika membacanya. Meski begitu beberapa hari ini pesan itu selalu kubaca. Bukan karena sakit hati, namun karena aku tahu aku salah dan aku tahu apa yang dikatakannya tentangku benar.

Ini tentang aku yang terlalu merasa sempurna akan sesuatu. Tentangku yang terlalu meminta banyak. Tentangku yang lupa. Tentangku yang telah menjadi angkuh dan tuli. Tentangku yang menyakiti orang yang seharusnya tidak kusakiti, setidaknya dia tidak pantas disakiti.


This is how you should remember that no one is perfect. People look perfect because they see the beautiful details of their imperfection.