Thursday, February 09, 2012

Dibalik Rayuan "Di Hatimuuuu..."

Era ini jelas sekali berbeda dengan era yang lalu. Sesuatu yang tabu pada masa lalu akan menjadi biasa sekarang. Hal itu sangat sederhana, karena terbiasa. Terbiasa bepergian hingga larut malam, terbiasa keluar meski dengan lawan jenis, dan lain sebagainya.

Kali ini yang ingin saya sorot masalah terbiasa memberi rayuan kata. Iya, rayuan bahkan seseorang dapat memberi rayuan kata kepada gadis atau pemuda yang sama sekali tidak menarik menurutnya.

"Bapak kamu pemain sepak bola ya?"
"Iya, kenapa?"

"Karena kamu berhasil mengiring cinta ke dasar hatiku..."


"Kamu tau kenapa aku nggak suka dongeng Cinderella?"
"Kenapa?"
"Karena aku benci berpisah dengan kamu pukul 12 malam, aku ingin bersamamu selamanya."



Dua contoh di atas adalah rayuan kata yang sudah biasa diterapkan oleh remaja sekarang. Memiriskan? hmm, belum tentu. Banyak remaja yang malah menikmati hal-hal lucu yang terjadi selanjutnya. Apalagi jika si gadis mudah tersipu atau malah membalas mereka dengan "candaan" yang sama.

Yang ingin saya bahas secara spesifik adalah rayuan kata "di hatimu...". Berikut beberapa contoh sederhananya.

"Kamu lagi dimana sekarang?"
"Di Hatimu..."


"Kamu besok ke mana?"
"Aku cuma pengen ada di hatimu..."


Ya. Contoh-contoh sederhana banyak sekali yang dapat diterapkan. Tapi benarkah itu adalah candaan semata?

Beberapa orang mungkin merasa seperti itu, mengucapkan tanpa rasa berdosa, lalu menikmati respon dari si penerima rayuan.
Namun, ada beberapa pihak di sini yang bisa kita sebut sebagai pihak yang miris. Pihak ini berisi orang-orang yang mengucapkannya sepenuh hati namun mereka sadar bahwa mereka tidak mungkin berada di hati si penerima rayuan. Karena si penerima rayuan hanya menganggapnya sesuatu yang kita sebut candaan.
Pihak yang miris mungkin hanya merasakan kelegaan sesaat karena dapat mengatakan hal-hal yang sebenarnya keinginan terdalamnya.
Namun selanjutnya mereka sadar bahwa apa yang mereka katakan mungkin belum bisa terjadi.

Hal-hal seperti itu mungkin hal biasa, tapi bayangkan jika berada di posisi pihak yang miris, menyadari tidak akan bisa berada di hati si penerima rayuan, lalu merasa kecewa dan mungkin kegalauan luar biasa akan datang.

Nikmati saja, jaga logika tetap berada di tempat yang benar. Maka semua akan baik-baik saja.


Dedicated to one of my best friends :p

3 comments: